SELAMAT DATANG DI BLOG MR.BANAK....MAAF BARU BELAJAR,...

Sabtu, Juli 17

REKRUTAN AWAL ATLET BERPRESTASI

dalam rekrutmen awal mencari atlet berprestasi.


Rekrutmen Awal

Rekrutmen awal mempunyai tujuan mendapatkan calon peserta olahraga yang lebih terarah, sehingga betul-betul mendapatkan atlet yang tekun tangguh dalam cabang olahraganya. Dengan demikian maka ia akan mampu mencapai prestasi puncaknya pada saat diharapkan.

Untuk mencapai hal itu dapat diterapkan beberapa cara seperti berikut:

wawancara

observasi

pengukuran


Wawancara

Wawancara bermaksud untuk mengetahui latar belakang seseorang mengapa ia ikut atau memilih olahraga cabang tertentu dalam mengisi aktivitas fisiknya. Apa motivasi yang ada di balik pilihannya itu. Dalam mewawancarai tersebut sedpat mungkin dilakukan sedemikian rupa sehingga yang diwawancarai tidak menyadari dirinya sedang diwawancarai. Hal itu untuk mendapatkan jawaban yang objektif, jujur dan muncul dari dalam hatinya sendiri. Wawancara dilaksanakan dalam situasi yang kondusif untuk itu, dan tetap dijaga kerahasiaan dan hak pribadi seseorang. Si pewawancara diharapkan juga mempunyai atau memegang kriteria tertentu, motivasi yang mana dipakai untuk diterapkan menerima atau tidak menerima calon-calon yang diwawancarai.

Pengalaman menunjukkan bahwa seseorang memilih cabang olahraga tertentu, karena beberapa alasan seperti ingin menjadi juara, ingin mendapatkan ketenaran nama, ingin mencari uang, menjadi idola publik, kebanggaan keluarga, batu loncatan ke tujuan lain. Jelas bahwa tidak semua tujuan-tujuan tersebut akan mampu mengantarkan seseorang menjadi juara. Juara atau prestasi puncak merupakan produk akumulasi dari latihan yang terartur dan benar dalam waktu yang lama, dan terprogram dengan baik.


Observasi

Seandainya seseorang telah terpilih menjadi atlet karena telah lolos dalam wawancara, maka berikutnya harus diobservasi gerak-gerik dan perilakunya selama berlatih dan melaksanakan aktivitas fisiknya. Keseriusan menjalankan program, keteraturan mengisi waktu hidupnya dalam sehari, seminggu, bulanan, pandangan hidupnya dalam jangka pendek, menengah =; semuanya itu disebut sebagai menejemen waktu. Hubungannya dengan calon pelatih atau oknum pimpinan cabang olahraga, serta apresiasinya terhadap program pelatihan harus diobservasi secara berkesinambungan. Tanpa itu maka banyak calon berhenti di tengah jalan, atau minggat atau menjadi kutu loncat ke bidang lain yang lebih menjanjikan.


Pengukuran

Memang banyak teori dapat diterapkan dalam pengukuran untuk tujuan mendapatkan calon-calon atlet. Perlu disadari semua cara tidak ada yang paling sempurna; ada nilai baik ada nilai kekurangannya. Karenanya maka salah satu dapat dipakai asal dijaga keberlanjutannya.

Di antara cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:

-berat badan ideal

-pemeriksaan kesehatan statis

-pemeriksaan kesehatan dinamis

-somatotipe tubuh

Dalam tulisan ini akan difokuskan kepada pengukuran somatotipe tubuh. Mengapa itu? Karena dari beberapa studi telah dibutikan bahwa penentuan somatotipe tubuh didapatkan gambaran jelas mengenai somatogram antara atlet dengan non atlet.


Pengukuran Somatotipe

Somatotipe adalah penilaian tubuh manusia atas dasar penampilan fisik. Unsur somatotipe dibentuk oleh elemen lemak bawah kulit, ukuran tinggi badan, ukuran lebar tulang paha dan lengan atas, lingkaran bisep dan betis, dan berat badan.

Somatotipe ditentukan oleh tiga indikator, yaitu endomorf, mesomorf, dan ektomorf. Endomorf berhubungan dengan lemak bawah kulit; mesomorf berhubungan dengan sistem muskularis; dan ektomorf berhubungan dengan tinggi dan berat badan. Jadi hasil pengukuran somatotipe seseorang berupa tiga buah angka (I, II, III) dimana I adalah nilai endomorf, II adalah nilai mesomorf, dan III adalah nilai ektomorf. Masing-masing nilai mempunyai rentangan dari terkecil 1 dan tertinggi 7 untuk ketiga komponen somatotipe tersebut. Sebagai suatu contoh nilai soamtotipe seseorang 1, 2, 5 itu artinya bahwa nilai endomorf-nya 1, nilai mesomorf-nya 2, dan nilai ektomorf-nya 5. Orang tersebut berperawakan tinggi kurus. Seorang atlet semestinya mempunyai nilai endomorf rendah, mesomorf tinggi dan nilai ektomorf agak tinggi.

Cara perhitungan untuk mendapatkan nilai ketiga komponen tersebut sebagai di bawah ini.


1) Endomorf

Untuk mendapatkan nilai endomorf tubuh diperlukan tebal lemak bawah kulit dengan

menghitung lipatan kulit di empat tempat yaitu:


trisep (lengan atas) : ....... mm,

subskapula : .........mm,

suprailiaka : .........mm

Jumlah : .....................mm


-betis : .........mm

(Cara perhitungannya lihat lampiran: Komponen I).


2) Mesomorf

Untuk mengukur mesomorf, diperlukan data sebagai berikut:


- tinggi badan : .............cm

- lebar humerus : .............cm

- lebar femur : .............cm

- lingkar bisep : .............cm

lingkar bisep – T = ................. - .....................= ............ cm

-lingkar betis : .............cm

lingkar betis – B = .................. - ......................= ............ cm

-rumus Mesomorf =

(D/8 + K) + 4,0

(Cara penghitungannya lihat lampiran: Komponen II).


3) Ektomorf

Untuk mengukur ektomorf diperlukan data sebagai berikut:


-tinggi badan : ........ cm

-berat badan : ........ kg


Rumus ektomorf: tinggi badan dibagi dengan hasil akar pangkat tiga berat badan. Atau nilainya dicari di dalam tabel (lihat lampiran yang berjudul: Nomogram, Menentukan Hasil Rumus Tinggi Badan/V Berat Badan).


Dari ketiga nilai tersebut (endomorf, mesomorf, ektomorf) akhirnya dapat digambarkan somatogramnya dengan memakai sumbu X dan Y sesuai dengan lampiran somatogram.

Untuk dapat membuat gambar dalam somatogram diperlukan beberapa perhitungan untuk mendapatkan nilainya pada sumbu X dan sumbu Y, sebagai berikut:

-untuk sumbu X = nilai ektomorf – nilai endomorf

-untuk sumbu Y = 2 x mesomorf – (endomorf + ektomorf)

dengan demikian setiap individu yang diukur akan punya dua nilai yaitu X dan Y; dengan patokan nilai positif digambar di kanan dari nilai 0 dan nilai negatif digambar di sebelah kiri nilai 0 (lihat lampiran somatogram). Bersama naskah ini juga disertakan lampiran blanko pengukuran somatotipe tubuh yang dikeluarkan oleh Program Studi Magister olahraga Program Pascasarjana Universitas Udayana, yang dapat dipakai pegangan dan pedoman dalam melakukan pengukuran somatotipe tubuh.

Peralatannya terdiri dari:

skin caliper untuk mengukur tebal lipatan kulit;

anthropometer untuk mengukur tinggi badan, tebal tulang-tulang, besar lingkaran betis, dan lingkaran lengan atas; dan

timbangan berat untuk mengukur berat badan.


Pembahasan

Dengan mendapatkan nilai endomorf, mesomorf, dan ektomorf maka dapat dibuatkan somatogramnya. Dalam somatogram akan jelas lokasi kelompok atlet dan non-atlet. Kelompok atlet terletak di bagian atas, sedangkan non-atlet di bagian bawah. Itu artinya bahwa kelompok non-atlet menguasai kuadran bawah, berarti unsur mesomorf-nya rendah. Dengan lain kata sistem otot-ototnya kurang berkembang. Bagian atas menunjukkan sistem otot-otot berkembang baik.

Dalam mencari bibit atlet, atau rekrutmen awal maka sebaiknya tidak memilih atlet yang gendut, perut membuncit, timbunan lemak berlebih di semua bagian tubuh. Karena calon atlet yang demikian itu belum apa-apa sudah menderita beban dari berat badannya yang lebih. Pasti geraknya kurang lincah. Maka pilihlah yang komponen mesomorf-nya tinggi, endomorf rendah. Sebenarnya dengan pengukuran berat badan ideal saja sudah mengarahkan mendapatkan calon atlet yang bertubuh atletis; kecuali untuk beberapa cabang olahraga yang mengandalkan berat badan (tinju, gulat, angkat berat, sumo) tentu lain dasar seleksinya.

Pengalaman dari beberapa studi sebelumnya bahwa nilai somatotipe juara dunia berbeda dengan kelompok non-atlet. Nilai somatotipe peraihrangking 1-10 dalam kejuaraan dunia dalam cabang olahraga tertentu menunjukkan somtogramnya berbeda dengan kelompok non-atlet. Demikian pula dengan hasil penelitian di Bali, kelompok atlet Kontingen Bali berbeda dengan non-atlet; atlet Bali berada dalam kuadran yang sama dengan para penari Bali. Itu berarti profesi penari yang tiap hari melakukan pentas mempunyai nilai somatotipe sesuai dengan atlet. Hal itu menunjukkan kuantitas aktivitas fisik mereka sudah sama dengan melakukan olahraga.

Untuk rekrutmen awal, maka disarankan pengukuran somatotipe tubuh calon dapat dipakai pegangan. Setelah masuk menjadi atlet maka barulah dilatih dengan teknik keterampilan, pembinaan kesegaran jasmani, serta strategi/teknik berlomba. Jalan lebih pendek atau lebih ekonomis kalau memilih atlet berdasarkan pemeriksaan somatotipe tubuh dibandingkan dengan tanpa persiapan sama sekali.

Dari pembahasan di atas satu hal yang perlu diingat ialah bahwa satu cara atau metode mempunyai nilai lebih unggul dibandingkan dengan cara yang lainnya, tetapi juga selalu disertai dengan kekurangannya sendiri. Untuk itu, selalu dikaji nilai keuntungannya sehingga metode pengukuran yang dipilih selalu lebih menguntungkan.


Simpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik butir simpulan sebagai berikut:

1) rekrutmen awal atlet berprestasi dimulai dari penilaian fisik calon, yang paling mudah dengan nilai berat badan ideal;

2) lebih mengarah lagi disusul dengan pemeriksaan somatotipe tubuh (endomorf, mesomorf, ektomorf), karena dnegan cara tersebut telah didapatkan calon-calon yang atletis; dan

3) pengukuran somatotipe tubuh memerlukan peralatan dan keterampilan tertentu.


Daftar Kepustakaan


Adiputra, N. 1988. Somatotipe Atlet kontingen Bali dalam PON XI di Jakarta. Majalah Ilmiah Udayana. Th XV. no.18: 58-70.


Adiputra, N. 1988. Body Composition and Somatotype Characteristics of Balinese dancers. Majalah Kedokteran Udayana. No. 59 Januari: 14-18.


Adiputra, N. 1989. Somatotipe Hansip Desa Sidakarya. Majalah Kedokteran Udayana.no.63 Januari: 11-15.


Adiputra, N. 1990. Somatotype of Athletes and Non-athletes. Majalah Ilmiah Udayana. Th.XVII.no.23: 9-13.


Adiputra, N. 1992. Physical Fitness of Balinese Dancer. Majalah Kedokteran Udayana. No.75, Januari: 33-36.


Adiputra, N. 1992. Pengaruh Latihan Menari Terhadap Kesegaran Jasmani. Jurnal Pascasarjana Unair. No.3 (2): 1-15.


Fox, EL; Bowers, RW; Fors, ML. 1993. The Physiological Basis for Exercise and Sport. Brown & Benchmark. Brown Common Inc: 669-673.

Selasa, Juli 13

Pelatihan Phisik

Permainan bulutangkis sarat dengan berbagai kemampuan dan keterampilan gerak yang kompleks. Sepintas lalu dapat diamati bahwa pemain harus melakukan gerakan-gerakan seperti lari cepat, berhenti dengan tiba-tiba dan segera bergerak lagi, gerak meloncat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan langkah lebar tanpa pernah kehilangan keseimbangan tubuh.

Gerakan-gerakan ini harus dilakukan berulangulang dan dalam tempo lama, selama pertandingan berlangsung. Akibat proses gerakan itu akan menghasilkan "kelelahan", yang akan berpengaruh langsung pada kerja jantung, paru-paru, sistem peredaran darah, pernapasan, kerja otot, danpersendian tubuh.

Karena itu, pebulutangkis sangat penting memiliki derajat kondisi fisik prima. Melalui proses pelatihan fisik yang terprogram baik, faktor-faktor tersebut dapat dikuasai. Dengan kata lain pebulutangkis harus memiliki kualitas kebugaran jasmani yang prima. Ini akan berdampak positif pada kebugaran mental, psikis, yang akhirnya berpengaruh langsung pada penampilan teknik bermain.

Itulah sebabnya pebulutangkis sangat membutuhkan kualitas kekuatan, daya tahan, fleksibilitas, kecepatan, agilitas, dan koordinasi gerak yang baik. Aspek-aspek tersebut sangat dibutuhkan agar mampu bergerak dan bereaksi untuk menjelajahi setiap sudut lapangan selama pertandingan.

A. Sistem Pelatihan Fisik Umum

Program dan aplikasi pelatihan fisik bulutangkis harus dirancang melalui tahapan sebagai berikut:

a. Persiapan fisik umum yang bertujuan meningkatkan kemampuan kerja organ tubuh, sehingga memudahkan upaya pembinaan dan peningkatan semua aspek pelatihan pada tahap berikutnya.
b. Persiapan fisik khusus bertujuan meningkatkan kemampuan fisik dan gerak yang lebih baik menuju pertandingan.
c. Peningkatan kemampuan kualitas gerak khusus pemain. Pada tahap ini pelatihan bertujuan untuk memahirkan gerakan kompleks dan harmonis yang dibutuhkan setiap pemain untuk menghadapi pertandingan.

Cara Terbaik untuk Mempersiapkan Kondisi Fisik Umum Pemain

1. Program Latihan Lari
Latihan lari sangat penting dan balk untuk mengasah kemampuan kerja jantung, paruparu, dan kekuatan tungkai. Membiasakan pemain berlatih lari selama 40-60 menit tanpa berhenti, yang dilakukan 3-4 kali seminggu, sangat baik untuk membina kemampuan daya tahan aerobik dan kebugaran umum pemain.

2. Program Latihan Senam
Bentuk-bentuk latihan senam peregangan untuk seluruh bagian tubuh dan persendian harus mendapat perhatian. Latihan peregangan hendaknya diselingi gerakan untuk memperkuat bagian tubuh bagian atas dan bawah yang dilakukan secara bergantian.

3. Program Latihan Loncat Tali
Latihan ini sangat balk untuk membina daya tahan, kelincahan kaki, dan kecepatan serta melatih kemampuan gerak pergelangan tangan lebih lentur dan kuat. Proses latihan dapat dilakukan de-ngan loncat satu kaki secara bergantian (seperti lari biasa), loncat dua kaki, dan masih banyak bentuk variasinya.

4. Program Latihan Gabungan
Model atau sistem pelatihan ini adalah menggunakan berbagai alat bantu seperti bangku, gawang ukuran kecil, tiang, tongkat, tali, bola, dan sebagainya. Tujuan latihan ini adalah membina dan meningkatkan kamampuan dan kete-rampilan gerak pemain sebagai upaya untuk pengkayaan gerak. Pelatih harus cermat dan terampil menciptakan rangkaian gerak yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan dalam permainan bulutangkis, di samping memberikan prioritas pada pembinaan aspek-aspek kelincahan, kegesitan, dan koordinasi gerak yang memang dibutuhkan dalam bulutangkis.

5.Latihan Pemanasan
Banyak pelatihan kurang memberikan perhatian khusus perihal peranan dan fungsi latihan pemanasan yang benar dan betul. Latihan pemanasan yang dikemas dengan benar akan memberikan pe-ngaruh positif pada proses kerja organ tubuh, mekanisme peredaran darah, dan pernapasan. Itu semua akan berpengaruh langsung untuk kerja berat selanjutnya. Di samping itu, sangat penting untuk menghindari terjadinya berbagai cedera otot, persendian, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya.
Pada umumnya latihan pemanasan berbentuk:

a. Lari jarak pendek yang bervariasi seperti lari sambil angkat paha/lutut, lari mundur, lari maju dan ke samping.
b. Melakukan gerakan-gerakan senam yang bersifat mere-gang otot tungkai, paha belakang, depan, lengan, pergelangan kaki, pinggang, otot bahu, dll.
c. Kualitas peregangan harus dilakukan dengan pelan sampai terasa terjadi proses peregangan pada bagian otot dan persendian yang dilatih. Hindari melakukan gerakan sentak, yang dapat menyebabkan rasa sakit pada otot atau persendian.

6. Latihan Pendinginan
Latihan ini dilakukan setelah program latihan selesai dilaksanakan sebagai upaya agar bagian otot yang bekerja berat tadi kembali pada posisi rileks dan tidak kaku. Bentuk latihannya adalah senam dan gerakan meregang. Kualitas latihan meregang, khususnya untuk otot besar seperti paha belakang dan depan, ping-gang, punggung, otot lengan, bahu, dada, dan berbagai persendian tubuh, harus dicermati betul. Lakukan gerakan pendinginan ini dengan benar,

B. Sistem Pelatihan Fisik Khusus

Pelatihan fisik bulutangkis dituntut untuk memahami dan mengetahui secara spesifik kebutuhan gerak olahraga ini. Bahkan harus mendalami makna proses kerja otot, sistem energi, dan mekanisme gerak yang terjadi dalam permainan bulutangkis. Atas dasar pengetahuan ini, pelatih akan mampu merancang bentuk-bentuk latihan fisik secara spesifik, sesuai kebutuhan pemain.

1. Latihan Daya Tahan
(Aerobik dan Anaerobik)
Kemampuan daya tahan dan stamina dapat dikembangkan melalui kegiatan lari dan gerakan-gerakan lain yang memiliki nilai aerobik. Biasakan pemain menyenangi latihan lari selama 40-60 menit dengan kecepatan yang bervariasi. Tujuan latihan ini adalah meningkatkan kemampuan daya tahan aerobik dan daya tahan otot. Artinya, pemain dipacu untuk berlari dan bergerak dalam waktu lama dan tidak mengalami kelelahan yang berarti.

Selanjutnya proses latihan lari ini ditingkatkan kualitas frekuensi, intensitas, dan kecepatan, yang akan berpengaruh terjadinya proses anaerobik (stamina)pemain. Artinya, pemain itu mampu bergerak cepat dalam tempo lama dengan gerakan yang tetap konsisten dan harmonis.

2. Latihan Kekuatan
Pemain bulutangkis sangat membutuhkan aspek kekuatan. Berdasarkan analisis dan cukup dominan pemain melakukan gerakan-gerakan seperti meloncat ke depan, ke belakang, ke samping, memukul sambil loncat, melakukan langkah lebar dengan tiba-tiba. Semua gerak ini membutuhkan kekuatan otot dengan kualitas gerak yang efisien.
Cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan kekuatan ini adalah berlatih menggunakan beban atau dengan kata lain latihan beban (weight training). Sebaiknya sebelum melakukan program latihan beban sesungguhnya, disarankan agar pemain lebih dulu mengenal berbagai bentuk gerakan seperti:
- mendorong (push up, pull up)
- bangun tidur, angkat kaki
- memperkuat otot punggung, pinggang
- jongkok berdiri untuk membina kekuatan tungkai - loncat-loncat di tempat atau sambil bergerak.
Proses selanjutnya adalah meningkatkan kualitas geraknya dengan menggunakan beban (weight training) yang sebenarnya. Dianjurkan untuk tidak melakukan atau berlatih loncat di tempat yang keras karena akan berdampak terjadinya sakit, cedera pada bagian lutut, dan pinggang.

3. Latihan Kecepatan
Aspek kecepatan dalam bulutangkis sangat penting. Pemain harus bergerak dengan cepat untuk menutup setiap sudut-sudut lapangan sambil menjangkau atau memukul kok dengan cepat.
Cara untuk bergerak cepat adalah melatih kecepatan tungkai/kaki. Aspek kecepatan dalam bulutangkis juga bermakna pemain harus cekatan dalam mengubah arah gerak dengan tiba-tiba, tanpa kehilangan momen keseimbangan tubuh (agilitas). Bentuk-bentuk latihannya antara lain:
a. Lari cepat dalam jarak dekat
b .Lari bolak-balik, jarak enam meter (shuttle run)
c. Tingkatkan kualitas latihan dengan menggunakan beban, rintangan, dan lain-lain.
d. Jongkok-berdiri dan diikuti lari cepat dalam jarak dekat pula.

4. Latihan Kelenturan/Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah komponen kesegaran jasmani yang sangat penting dikuasi oleh setiap pemain bulutangkis. Dengan karakteristik gerak serba cepat, kuat, luwes namun tetap bertenaga, pembinaan kelenturan tubuh harus mendapat perhatian khusus.

Latihan fleksibilitas harus mendapat porsi yang cukup. Orang yang kurang lentur rentan mengalami cedera di bagian otot dan daerah persendian. Di samping itu, gerakannya cenderung kaku sehingga banyak menggunakan energi, kurang harmonis, kurang rileks, dan tidak efisien.
Latihan-latihan peregangan dengan kualitas gerakan yang benar memacu komponen otot dan persendian mengalami peregangan yang optimal. Oleh karena itu, fleksibilitas ini harus dilatih dengan tekun dan sistematis.

5. Model-Model Latihan Fisik dengan Menggunakan Alat Bantu Pelatihan

a. Latihan denganBola Medisin
Bola medisin yang beratnya bervariasi antara 1-5 kilogram merupakan alat bantu pelatihan, antara lain untuk kekuatan dan kecepatan melempar, membina kekuatan lengan, tungkai, dan kekuatan bagian atas dan bawah tubuh.
Bentuk latihan bola medisin ini antara lain dilakukan dengan melempar ke arah tembok dengan satu atau dengan dua lengan. Berdiri kira-kira 3-4 meter dari tembok, lalu lempar bola itu dan segera tangkap bola tersebut sambil lari mundur ke arah garis start, seperti layaknya gerak mundur dalam permainan bulutangkis.

b. Latihan Loncat Tali
Pemain bulutangkis dianjurkan untuk terampil dan menguasai bentuk latihan loncat tali ini. Pengaruh latihan ini sangat membantu untuk membina kekuatan kaki, pergelangan kaki, daya tahan, koordinasi gerak, dan membantu peningkatan kualitas gerak pergelangan tangan.
Latihan loncat tali dirancang dengan sistem interval antara lain sebagai berikut:

• Sesi I: • Sesi H:
1. 3 X 30 detik 1.5 X 25 detik
2. 5 X 25 detik 2. 7 X 20 detik
3. 7 X 20 detik 3. 5 X 30 detik
4. 3 X 30 detik 4. 3 X 40 detik

Masa istirahat antara kegiatan adalah 15-20 detik. Tingkatkan latihan ini dengan menambah jumlah sesi, waktu kegiatan masa istirahat diperpendek. Dalam aplikasi latihan loncat tali, pelatih harus berperan memberikan motivasi dan pengawasan gerak loncat, sehingga tujuan latihan tercapai dengan optimal.

c. Latihan Bayangan
Latihan ini berfungsi untuk meningkatkan kemampuan gerak kaki, kecepatan, serta daya tahan. Latihan ini dapat dijadikan sebagai program khusus, rutin bagi pemain agar langkah dan gerakan kaki (footwork) senantiasa ditingkatkan dan dipelihara terus.
Untuk meningkatkan kualitas latihan ini, pemain harus menggunakan "jaket pemberat" yang dibuat khusus untuk itu. Sangat balk untuk membina kualitas dan kecepatan gerak pemain.

d. Latihan Loncat Bangku/Gawang
Latihan ini berfungsi untuk membina kekuatan tungkai, konsentrasi, dan kecepatan gerak yang dibutuhkan dalam permainan. Bangku atau gawang dibuat dengan berbagai ukuran tinggi antara lain 40, 50, 70, 80 cm. Alat ini berfungsi sebagai alat pemberat, rintangan, tantangan, agar pemain terpacu untuk mengatasinya. Proses kerja "overload' (beban lebih) dengan menggunakan beban rintangan ini, latihan makin terasa berat bagi pemain.
Dalam pelaksanaan latihan, pelatih harus terampil meletakkan gawang/bangku itu sesuai dengan tujuan latihan dan kebutuhan pemain.



(Sumber: "PEDOMAN PRAKTIS BERMAIN BULUTANGKIS", Oleh: PB PBSI)