SELAMAT DATANG DI BLOG MR.BANAK....MAAF BARU BELAJAR,...

Minggu, Desember 12

cara menyikapi rasa grogi sebelum bertanding


Siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami perasaan grogi? Kalau mau jujur, setiap orang pasti pernah merasakan pengalaman tersebut. Dalam berbagai kesempatan, sensasi ini kerap muncul dan mewarnai perjalanan hidup kita. Misalnya, banyak orang yang mengaku pernah mengalami grogi ketika hendak menyatakan cinta kepada seseorang. Atau ketika harus berbicara di depan banyak orang. Apalagi ketika bertanding di hadapan ratusan bahkan ribuan penonton. Grogi merupakan hal yang wajar dan lumrah. Lebih hebatnya lagi, itulah yang membuat kita tetap menjadi manusia normal. Bukan mesin atau batu yang tidak berperasaan.

Kenapa Bisa Muncul Grogi?

Grogi sebenarnya termasuk dalam kelompok emosi takut dan khawatir. Takut gagal, dan khawatir tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna. Masih ditambah lagi dengan adanya unsur malu serta tidak percaya diri. Benar-benar suatu sensasi emosi yang - sebenarnya - indah. Yang menarik adalah bahwa grogi ini hanya akan muncul jika kita menganggap bahwa hal yang akan kita lakukan tersebut sangat penting. Bandingkan saat kita menempel cock dalam sebuah pertandingan, terutama saat poin-poin kritis. Ada beban emosi tertentu disitu, takut melakukan kesalahan, lalu gagal dan kalah. Sementara saat latihan biasa, kita dapat melakukan tempelan-tempelan itu dengan santai. Karena tidak ada ketakutan untuk melakukan kesalahan. Jadi sebenarnya Anda justru harus grogi menghadapi suatu pertandingan, karena itu berarti Anda menganggap pertandingan itu suatu hal yang penting untuk dimenangkan.

Jadi, Grogi Itu Kawan atau Lawan?

Grogi, seperti juga halnya emosi-emosi yang lain, bisa saja menjadi hal yang positif, tapi juga bisa menjadi hal yang negatif. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada beberapa sikap yang kurang menguntungkan sehubungan dengan grogi ini. Pertama, Sikap Mengingkari atau sikap tidak mau mengakui bahwa kita memang sedang grogi. Perlu kita pahami, baik kita akui atau tidak, jika kita memang sedang grogi, ya grogi. Grogi tidak akan lenyap hanya dengan kita ingkari keberadaannya. Malahan kita akan kehilangan simpati dan dukungan dari rekan-rekan kita, jika kita terus mengingkarinya, padahal semua orang bisa melihat bahwa kita sedang grogi. Kedua, Sikap Menyerah pada rasa grogi. Biasanya, sikap kedua inilah yang banyak diambil oleh orang-orang. Mereka membiarkan rasa grogi ini menguasai dirinya, sehingga energinya banyak tersedot dan akhirnya tidak mampu melakukan tugasnya dengan sempurna, pikiran jadi kosong, susah berkonsentrasi, dan tubuh pun tidak dapat digerakkan persis seperti yang kita inginkan.

Lalu, Apa Solusinya?

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menyikapi rasa grogi ini. Pertama, berdamailah dengan rasa grogi Anda. Artinya, Anda menerima dan mengakui bahwa Anda sedang grogi. Buanglah jauh-jauh pendapat bahwa seorang atlet yang hebat tidak akan pernah merasa grogi. Evander Hollyfield, mantan juara dunia tinju sekalipun berani mengakui bahwa dia selalu grogi menjelang naik ke atas ring. Oleh karena itu, dia selalu bernyanyi dan berjoged sendiri sebelum bertanding. Aktivitas ini membantunya menurunkan ketegangan pikirannya, karena pada dasarnya emosi adalah energi, jadi harus disalurkan. Ada yang berusaha mengurangi grogi dengan makan permen manis, ada yang dengan cara bercanda bersama teman-temannya, ada pula yang berteriak-teriak. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan kadar grogi. Kita bisa memilih sendiri cara yang paling cocok untuk kita. Yang jelas, tidak perlu merasa gengsi, lalu berusaha berbohong dan menutupinya, karena hal itu akan membuat beban mental kita menjadi semakin berat.

Tips kedua adalah dapatkan sebanyak mungkin simpati dan dukungan. Rasa grogi akan semakin mengganggu ketika kita merasa sendirian. Sebaiknya, beban mental itu akan menjadi lebih ringan ketika kita membaginya dengan orang lain. Kebanyakan orang ketika sedang grogi malah menjadi sepaneng, seperti memakai kaca mata kuda. Mereka merasa semua mata memandang dirinya, dan mencari kesalahannya, lalu mulai menjadi salah tingkah. Akan lebih baik apabila pada saat itu kita membuka koneksi dengan orang lain, sehingga tercipta kehangatan dengan lingkungan sekitar. Membuka koneksi ini dapat dilakukan dengan cara bercerita dengan jujur kegrogian kita kepada rekan tim dan pelatih, dan minta mereka memberi dukungan. Bisa juga dilakukan dengan cara memberi salam atau menyapa para penonton, tindakan ini menunjukkan kerendahan hati kita. Perlu diingat, orang-orang lebih suka memberikan dukungan kepada orang yang lebih rendah hati, daripada yang sombong. Bahkan jika memungkinkan, kita juga bisa menyapa lawan tanding kita. Tindakan yang unik ini akan mendatangkan banyak simpati dari berbagai pihak.

Kalau tips pertama dan kedua masih kurang manjur, maka tips ketiga adalah menggunakan kekuatan mental kita. Kekuatan mental yang dimaksud di sini adalah keyakinan dan keinginan untuk menang. Yakinlah bahwa selama pertandingan belum selesai, siapapun punya kesempatan untuk menang. Apalagi dalam pertandingan bulutangkis yang tidak dibatasi oleh waktu, kesempatan masih terbuka lebar untuk meraih angka demi angka. Keinginan untuk menang juga bisa sangat membantu. Bayangkan hal-hal yang menyenangkan yang akan terjadi seandainya kita berhasil memenangkan pertandingan itu.

Rekan-rekan bulutangkis mania, tips-tips ini hanya akan menjadi tips belaka, jika kita tidak pernah mencoba dan melatihnya. Sebagai atlet, rekan-rekan punya banyak kesempatan untuk mencobanya. Mengalami grogi tatkala menghadapi suatu pertandingan adalah hal yang wajar, siapa pun akan mengalaminya, termasuk juga lawan tanding kita. Dan walaupun keterampilan dan teknik bermain punya peranan yang sangat penting, tapi siapapun yang lebih mampu mengendalikan rasa groginya, dialah yang akan mengendalikan jalannya pertandingan. Oleh karena itu... grogi, so what gitu loh??!!??

disarikan dari berbagai sumber:

psikologi olahraga

Psikologi Olahraga

Psikologi Olahraga
A. Pengertian Psikologi Olahraga

1. Apakah Psikologi Olahraga?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.

Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.

2. Mengapa Psikologi Olahraga Diperlukan dalam Olahraga?

Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.

Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai. mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.

3. Bagaimanakah Psikologi Olahraga Dapat Membantu Atlet Agar Memiliki Mental yang Tangguh?

Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan "psikotes", dengan bantuan psikometri.

Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepnbadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis (diuraikan kemudian) yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut.

B. Aspek-aspek Psikologis yang berperan dalam Olahraga

Pengaruh faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet tersebut bertanding. Berikut ini akan diuraikan beberapa masalah psikologis yang paling sering timbul di kalangan olahraga, khususnya dalam kaitannya dengan pertandingan dan masa latihan.

1. Berpikir Positif

Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental yang tangguh.

Pikiran positif akan diikuti dengan tindakan dan perkataan positif pula, karena pikiran akan menuntun tindakan. Sebagai contoh, jika dalam bermain bulutangkis terlintas pikiran negatif seperti, "takut salah, takut out, takut bola pukulannya tanggung" dan sebagainya, maka kemungkinan terjadi akan lebih besar. Karena itu cobalah dan biasakan untuk selalu berpikir positif, hindari yang negatif. Demikian juga dalam memberikan instruksi kepada atlet. Daripada mengatakan: "Kamu ini susah sekali sih diajarnya..., salah terus...! Awas, jangan berhenti sebelum bisa!", lebih baik mengatakannya dengan cara yang positif walaupun maksudnya sama: "Ayo, coba lagi pelan-pelan, kamu pasti bisa melakukannya. Perhatikan, tangannya, begini... langkahnya, ke sini... kena bolanya, di sini... ayo dicoba".

Sebagai pelatih, tunjukkan Anda percaya bahwa atlet Anda memiliki peluang untuk dapat berprestasi baik. Cemooh, celaan, dan kritik yang pedas yang tidak pada tempatnya, justru akan membuat atlet bereaksi negatif dan berakibat akan menurunkan motivasi yang diikuti dengan penurunan prestasi.

2. Penetapan Sasaran

Penetapan sasaran (goal setting) merupakan dasar dan latihan mental. Pelatih perlu membantu setiap atletnya untuk menetapkan sasaran, baik sasaran dalam latihan maupun dalam pertandingan. Sasaran tersebut mulai dan sasaran jangka panjang, menengah, sampai sasaran jangka pendek yang lebih spesifik.

Untuk menetapkan sasaran, ada tiga syarat yang perlu diingat agar sasaran itu bermanfaat, yaitu:

a. Sasaran harus menantang.

Sasaran yang ditentukan harus sedemikan rupa, sehingga atlet merasa tertantang untuk dapat mencapai sasaran tersebut.

b. Sasaran harus dapat dicapai.

Buatlah sasaran itu cukup tinggi, akan tetapi tidak terlalu tinggi. Atlet harus merasa bahwa sasaran yang ditetapkan itu dapat tercapai jika ia berusaha keras. Jika sasaran terlalu tinggi, sehingga atlet merasa mustahil dapat mencapainya, maka motivasi berlatihnya akan menurun. Demikian pula, jika sasaran tersebut terlalu mudah untuk dapat dicapai, maka atlet merasa tidak perlu berlatih keras karena ia akan dapat mencapai sasaran tersebut.

c. Sasaran harus meningkat.

Mulai dari sasaran yang relatif rendah, kemudian buatlah sasaran tersebut makin lama makin tinggi, semakin sulit tercapainya jika atlet tidak berlatih keras. Dalam setiap latihanpun biasakanlah selalu ada sasaran yang harus dicapai. Dan target yang bersifat umum, lalu uraikan lagi secara lebih spesifik. Dan target untuk suatu kompetisi jangka panjang, uraikan menjadi target atau sasaran jangka pendek, sampai target untuk setiap latihan. Sasaran yang ditetapkan tersebut, hendaknya juga ditetapkan kapan harus tercapainya, dan bagaimana pula cara mengukumya atau apa ukurannya secara objektif. Sedapat mungkin, buatkan grafik pencapaian sasaran tersebut agar terlihat jelas arah dan peningkatannya.

3. Motivasi

Motivasi dapat dilihat sebagai suatu proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang kuat menunjukkan bahwa dalam diri orang tersebut tertanam dorongan kuat untuk dapat melakukan sesuatu.

Ditinjau dari fungsi diri seseorang, motivasi dapat dibedakan antara motivasi yang berasal dan luar (ekstrinsik) dan motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri (intrinsik). Dengan pendekatan psikologis diharapkan atlet dalam setiap penampilannya dapat memperlihatkan motivasi yang kuat untuk bermain sebaik-baiknya, sehingga dapat memenangkan pertandingan.

Motivasi yang baik tidak mendasarkan dorongannya pada faktor ekstrinsik seperti hadiah atau penghargaan dalam bentuk materi. Akan tetapi motivasi yang baik, kuat, dan lebih lama menetap adalah faktor intrinsik yang mendasarkan pada keinginan pribadi yang lebih mengutamakan prestasi untuk mencapai kepuasan diri daripada hal-hal yang material.

Untuk mengembangkan motivasi intrinsik ini, peran pelatih dan orangtua sangat besar. Pelatih perlu melakukan pendekatan dan menumbuhkan kepercayaan diri pada atlet secara positif. Ajarkan atlet untuk dapat menghargai diri sendiri, oleh karena itu, pelatih harus memperlihatkan bahwa ia menghargai hasil kerja atlet secara konsekuen.

4. Emosi

Faktor-faktor emosi dalam diri atlet menyangkut sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri.

Pengendalian emosi dalam pertandingan olahraga seringkali menjadi faktor penentu kemenangan. Para pelatih harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi atlet asuhannya, bukan saja dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan dan kehidupan sehari-hari. Pelatih perlu tahu kapan dan hal apa saja yang dapat membuat atletnya marah, senang, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan demikian pelatih perlu juga mencari data-data untuk mengendalikan emosi para atlet asuhannya. yang tentu saja akan berbeda antara atlet yang satu dengan atlet lainnya.

Gejolak emosi dapat mengganggu keseimbangan psikofisiologis seperti gemetar, sakit perut, kejang otot, dan sebagainya. Dengan terganggunya keseimbangan fisiologis maka konsentrasi pun akan terganggu, sehingga atlet tidak dapat tampil maksimal. Seringkali seorang atlet mengalami ketegangan yang memuncak hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Demikian hebatnya ketegangan tersebut sampai ia tidak dapat melakukan awalan dengan baik. Apalagi jika lawannya dapat menekan dan penonton pun tidak berpihak padanya, maka dapat dibayangkan atlet tersebut tidak akan dapat bermain baik. Konsentrasinya akan buyar, strategi yang sudah disiapkan tidak dapat dijalankan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.

Disinilah perlunya dipelajari cara-cara mengatasi ketegangan (stress mana- gement). Sebelum pelatih mencoba mengatasi ketegangan atletnya. terlebih dulu harus diketahui sumber-sumber ketegangan tersebut. Untuk mengetahuinya, diperlukan adanya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atlet. Berikut ini dijelaskan secara terpisah mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan emosi.

5. Kecemasan dan Ketegangan

Kecemasan biasanya berhubungan dengan perasaan takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu, telah banyak diketahui berbagai teknik untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan yang penggunaannya tergantung dari macam kecemasannya.

Sebagai usaha untuk dapat mengatasi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan, lakukanlah beberapa teknik berikut ini :

a. Identifikasikan dan temukan sumber utama dan permasalahan yang menimbulkan kecemasan.
b. Lakukan latihan simulasi, yaitu latihan di bawah kondisi seperti dalam pertandingan sesungguhnya.
c. Usahakan untuk mengingat, memikirkan dan merasakan kembali saat-saat ketika mencapai penampilan paling baik atau paling mengesankan.
d. Lakukan latihan relaksasi progresif, yaitu melakukan peregangan alau pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.
e. Lakukan latihan otogenik, yaitu bentuk latihan relaksasi yang secara sistematis memikirkan dan merasakan bagian-bagian tubuh sebagai hangat dan berat.
f. Lakukan latihan pernapasan dengan bernapas melalui mulut dan hidung serta secara sadar bernapas dengan menggunakan diafragma.
g. Dengarkan musik (untuk mengalihkan perhatian).
h. Berbincang-bincang, berada dalam situasi sosial (untuk mengalihkan perhatian).
i. Membuat pernyataan-pernyataan positif terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diperlukan saat itu.
j. Lain-lain yang dapat mengurangi ketegangan.

6. Kepercayaan Diri

Dalam olahraga, kepercayaan diri sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Masalah kurang atau hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri akan mengakibatkan atlet tampil di bawah kemampuannya. Karena itu sesungguhnya atlet tidak perlu merasa ragu akan kemampuannya, sepanjang ia telah berlatih secara sungguh-sungguh dan memiliki pengalaman bertanding yang memadai.

Peran pelatih dalam menumbuhkan rasa percaya diri atletnya sangat besar. Syarat untuk untuk membangun kepercayaan diri adalah sikap positif. Beritahu pemain di mana letak kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Buatkan program latihan untuk setiap atlet dan bantu mereka untuk memasang target sesuai dengan kemampuannya agar target dapat tercapai jika latihan dilakukan dengan usaha keras. Berikan kritik membangun dalam melakukan penilaian terhadap atlet. Ingat, kritik negatif bahkan akan mengurangi rasa percaya diri.

Jika pemain telah bekerja keras dan bermain bagus (walaupun kalah), tunjukkan penghargaan Anda sebagai pelatih. Jika pemain mengalami kekalahan (apalagi tidak dengan bermain baik), hadapkan ia pada kenyataan objektif. Artinya, beritahukan mana yang telah dilakukannya secara benar dan mana yang salah, serta tunjukkan bagaimana seharusnya. Menemui pemain yang baru saja mengalami kekalahan harus dilakukan sesegera mungkin dibandingkan dengan menemui pemain yang baru saja mencetak kemenangan.

7. Komunikasi

Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah, khususnya antara atlet dengan pelatih. Masalah yang sering timbul dalam hal kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atletnya adalah timbulnya salah pengertian yang menyebabkan atlet merasa diperlakukan tidak adil, sehingga tidak mau bersikap terbuka terhadap pelatih. Akibat lebih jauh adalah berkurangnya kepercayaan atlet terhadap pelatih.

Untuk menghindari terjadinya hambatan komunikasi, pelatih perlu menyesuaikan teknik-teknik komunikasi dengan para atlet seraya memperhatikan asas individual. Keterbukaan pelatih dalam hal pogram latihan akan membantu terjalinnya komunikasi yang baik, asalkan dilakukan secara objektif dan konsekuen. Atlet perlu diberi pengertian tentang tujuan program latihan dan fungsinya bagi tiap-tiap individu.

Sebelum program latihan dijalankan, perlu dijelaskan dan dibuat peraturan mengenai tata tertib latihan dan aturan main lainnya termasuk sanksi yang clikenakan jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah dibuat tersebut. Jadi, hindarilah untuk memberlakukan suatu sanksi yang belum pernah diberitahukan sebelumnya. Misalnya, seorang atlet minum Coca Cola dalam latihan, lalu dihukum oleh pelatih. Atlet tersebut bingung dan bertanya-tanya mengapa ia dihukum karena ia tidak pernah dijelaskan sebelumnya oleh pelatih bahwa dalam latihan dilarang minum minuman bersoda.

Demikian pula dalam hal pelaksanaanya. Peraturan yang sudah dibuat, haruslah dijalankan secara konsekuen. Artinya, jika seorang atlet dihukum karena melanggar peraturan tertentu, maka jika ada atlet lain yang melanggar peraturan yang sama ia pun harus mendapat hukuman yang sama. Demikian pula jika atlet yang sama melakukannya lagi di kemudian hari.

Pelatih pun perlu bersikap objektif dan berpikir positif. Bersikap objektif maksudnya adalah bersikap sesuai dengan kenyataan atau fakta apa adanya tanpa menyangkutpautkan dengan hal lain. Jika pelatih marah terhadap atlet karena misalnya si atlet datang terlambat dalam latihan, maka hukumlah atlet itu hanya atas keterlambatannya, jangan dihubungkan dengan hal-hal lain (ingat, hukuman tersebut harus sudah tertera dalam tata tertib latihan).

8. Konsentrasi

Konsentrasi merupakan suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tententu dalam waktu tertentu. Makin baik konsentrasi seseorang, maka makin lama ia dapat melakukan konsentrasi. Dalam olahraga, konsentrasi sangat penting peranannya. Dengan berkurangnya atau terganggunya konsentrasi atlet pada saat latihan, apalagi pertandingan, maka akan timbul berbagai masalah.

Dalam olahraga, masalah yang paling sering timbul akibat terganggunya konsentrasi adalah berkurangnya akurasi lemparan, pukulan, tendangan & tembakan sehingga tidak mengenai sasaran. Akibat lebih lanjut jika akurasi berkurang adalah strategi yang sudah dipersiapkan menjadi tidak jalan, sehingga atlet akhimya kebingungan, tidak tahu harus bermain bagaimana dan pasti kepercayan dirinya pun akan berkurang. Untuk menghindari keadaan tersebut, perlu dilakukan latihan berkonsentrasi.

9. Evaluasi Diri

Evaluasi diri dimaksudkan sebagai usaha atlet untuk mengenali keadaan yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar atlet dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya pada saat yang lalu maupun saat ini. Dengan bekal pengetahuan akan keadaan dirinya ini maka pemain dapat memasang target latihan maupun target pertandingan dan cara mengukurnya. Kegunaan lainnya adalah untuk mengevaluasi hal-hal yang telah dilakukannya, sehingga memungkinkan untuk mengulangi penampilan terbaik dan mencegah terulangnya penampilan buruk.

Oleh karena itu, pelatih perlu menginstruksikan atletnya untuk memiliki buku catatan harian mengenai latihan dan pertandingan. Minta pemain untuk menuliskan kelemahan dan kelebihan diri sendiri, baik dalam segi fisik, teknik, maupun mental. Kemudian koreksilah jika menurut Anda sebagai pelatih ada hal-hal yang tidak sesuai atau ada yang kurang.

Biasakan agar atlet mengisi buku tersebut secara teratur. Ajak atlet untuk menuliskan di dalam bukunya hal-hal yang intinya sebagai berikut:

- Target jangka panjang, menengah, dan jangka pendek dalam latihan dan pertandingan.
- Sesuatu yang dilakukan dan dipikirkan sebelum latihan atau pertandingan.
- Suatu gerakan atau penampilan mengesankan.
- Catatan mengenai kelemahan dan kelebihan lawan yang akan dihadapi dan strategi menghadapinya.
- Hasil dan jalannya pertandingan.
- Hal yang mengganggu emosi atau membuat penampilan jadi buruk.
- Penghargaan yang didapat atas suatu keberhasilan.

Pastikan bahwa buku tersebut diisi secara teratur oleh setiap atlet. Namun perlu diingat bahwa pelatih jangan terlalu memaksa untuk membaca buku harian atlet. Biarkan itu menjadi bagian dan rahasia pribadi mereka. Yang perlu dipantau oleh pelatih adalah bahwa atlet mempunyai bahan bagi dirinya sendiri untuk melakukan evaluasi.

C. Persiapan Pertandingan

Setelah atlet dilatih baik fisik, teknik, strategi, maupun mentalnya dengan program latihan yang tepat, maka untuk menguji hasil latihannya adalah dengan lterjun ke dalam pertandingan. Tentunya diharapkan bahwa setiap pemain akan dapat menampilkan seluruh kemampuannya yang didapat dan latihan. Namun acapkali pemain tampil di bawah form, artinya ia tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimilikinya pada saat pertandingan.

Untuk mengatasi hal seperti di atas, perlu diciptakan situasi yang mendukung yang tercapainya prestasi optimal dan dilakukan perwapan mental untuk menghadapi suatu pertandingan agar si atlet dapat menampilkan seluruh kemampuannya, sehingga tercapailah prestasi puncak.

Ada empat tahap penting dalam persiapan menuju pertandingan, yaitu

(1). Sebelum hari pertandingan
(2). Pada hari pertandingan
(3). Saat pertandingan
(4). Setelah hari pertandingan.

Berikut uraiannya dalam contoh persiapan pertandingan bulutangkis:

1. Sebelum Hari Pertandingan

a. Kumpulkan data mengenai kekuatan dan kelemahan lawan. Jika memungkin- kan, putarlah rekaman pertandingannya. Kemudian susunlah strategi untuk menghadapinya. Untuk pemain ganda, diskusikan strategi tersebut dengan pasangannya.

b. Pantau kemajuan atlet, baik fisik maupun mentalnya dengan memperhatikan bagaimana tingkat konsentrasinya, bagaimana irama, timing, power, dan kelancaran menjalankan ketrampilannya serta sikapnya terhadap latihan secara umum.

c. Pantau tingkat kecemasan atlet dengan melihat ekspresi wajahnya apakah cerah atau murung: apakah sinar matanya letih atau segar dan awas. Juga perhatikan suasana hatinya, bagaimana kualitas tidur dan makannya, apakah ia mengalami faktor-faktor psikosomatis seperti sakit perut, nyeri otot, sesak nafas, demam, batuk, keringat dingin, dan sebagainya.

d. Pada saat tidak latihan, pastikan bahwa atlet tidak "hidup dan berpikir" mengenai pertandingannya 24 jam sehan. Berikan aktivitas yang menyenangkan bagi dirinya yang dapat memberikan suasana gembira, sehingga ia bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari pertandingan.

e. Satu hari menjelang pertandingan, biasanya cukup latihan ringan saja dan tidak perlu berada di lapangan terlalu lama. Pada malam hari sebelum bertanding, tidurlah pada saat yang tepat, tidak perlu tidur terlalu cepat. Sebelum tidur, lakukan latihan relaksasi dan visualisasi. Jika pertandingan besok dilakukan pagi atau siang hari, siapkan alat-alat perperlengkapan pertandingan, termasuk baju ganti dan perlengkapan cadangan malam ini juga agar esok tidak terburu-buru. Pastikan semua dalam keadaan baik.

2. Pada Hari Pertandingan

a. Bangun tidur pada saat yang tepat, malamnya harus tidur cukup dan tidak berlebihan. Kemudian lakukan aktivitas rutin kebiasaan sehari-hari, seperti sembahyang, berdoa, stretching, sarapan (perhatikan kapan harus makan dan apa yang harus dimakan), latihan relaksasi dan visualisasi, memeriksa kembali perlengkapan pertandingan termasuk cadangannya. Mulailah hari ini dengan gembira, optimis, dan berpikir positif.

b. Berangkatlah ke tempat pertandingan pada saat yang tepat. Perhitungkan jarak ke tempat pertandingan, bagaimana mencapainya, kemacetannya dan sebagainya. Tidak perlu berangkat terlalu cepat, namun jangan sampai terlambat, sehingga tidak ada waktu untuk istirahat, penyesuaian dan pemanasan.

c. Di tempat pertandingan pelatih perlu mengenali atlet mana yang berada didekat teman-temannya dan mana yang lebih suka menyendiri. Pastikan di lapangan mana atlet yang akan bertanding, jangan lupa melapor panitia. Untuk pertandingan pertama, pastikan atlet sudah hapal dimana letak ruang ganti, WC, ruang kesehatan, tes doping, tempat ganti senar, dan sebagainya.

d. Sambil melakukan pemanasan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat' dlan tetap berpikir positif. Pelatih dapat mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas. Lakukan stroke dengan penuh konsentrasi yang kemudian dapat dilanjutkan dengan'visualisasi clan relaksasi.

3. Saat Bertanding

Saat bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik memukul atau bagaimana harus melangkah. Itu semua sudah dilatih dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi penuh hanya pada bola dan jalannya pertandingan.

Anjurkan atlet untuk:

a. Memantau clan menyesuaikan tingkat kecemasan, lakukan relaksasi.

b. Pusatkan perhatian semata-mata hanya terhadap permainan yang sedang dijalani. Kesalahan yang baru atau pernah terjadi, clan yang mungkin terjadi jangan dihiraukan.

c. Berpikir positif dan optimis, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif.

d. Jangan terlalu banyak menganalisa.

e. Bermainlah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.

f. Menjalankan strategi yang telah disiapkan. Jangan diubah jika strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan, lakukan penyesuaian dengan alternatif strategi yang sudah dipersiapkan.

g. Hindari hal-hal negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan clan menyerah sebelum pertandingan selesai.

h. Jika bermain bagus, jangan bertanya mengapa clan mengganti apapun; biarkan berjalan demikian. Jangan mengendor jika sedang leading (memimpin pertandingan), clan tidak perlu kasihan jika lawan mendapat angka nol.

4. Setelah Hari Pertandingan

a. Mintalah atlet mencatat hal-hal posisitf maupun negatif yang dirasa berpengaruh terhadap penampilannya dalam pertandingan tadi. Bukan hanya yang bersifat teknik, taktik, clan strategi, tetapi juga yang bersifat mental, bahkan hal-hal kecil lainnya. Catat hasil tersebut dalam buku evaluasi si atlet.

b. Evaluasi penampilan dalam pertandingan tadi. Apakah mencapai sasaran?

c. Putuskan apakah perlu diadakan penyesuaian terhadap program latihan.

d. Pusatkan perhatian terhadap aspek-aspek positif dari penampilan dalam pertandingan.

D. Pelatih Sebagai Pembina Mental Atlit

Pelatih dalam olahraga dapat mempunyai fungsi sebagai pembuat atau pelaksana program latihan, sebagai motivator, konselor, evaluator dan yang bertanggung jawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepelatihan tersebut. Sebagai manusia biasa, pelatih sama halnya dengan atlet, mempunyai kepribadian yang unik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap pelatih memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu tidak ada pelatih yang murni ideal atau sempura.

Dalam mengisi peran sebagai pelatih, seseorang harus melibatkan diri secara total dengan atlet asuhannya. Artinya, seorang pelatih bukan hanya melulu mengurusi masalah atau hal-hal yang berhubungan dengan olahraganya saja, tetapi pelatih juga harus dapat berperan sebagai teman, guru. orangtua, konselor, bahkan psikolog bagi atlet asuhannya. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa atlet sebagai seorang yang ingin mengembangkan prestasi, akan mempunyai kepercayaan penuh terhadap pelatihnya.

Keterlibatan yang mendalam antara pelatih dengan atlet asuhannya harus dilandasi oleh adanya empati dan pelatih terhadap atletnya tersebut.Empati ini merupakan kemampuan pelatih untuk dapat menghayati perasaan atau keadaan atletnya, yang berarti pelatih dapat mengerti atletnya secara total tanpa ia sendiri kehilangan identitas pnbadinya. Untuk mengerti keadaan atlet dapat diperoleh dengan mengetahui atau mengenal hal-hal penting yang ada pada atlet yang bersangkutan. Pengetahuan sekadarnya saia tidak cukup bagi pelatih untuk mengetahui keadaan psikologi atletnya. Dasar dan sikap mau memahami keadaan psikologi atletnya adalah pengertian pelatih bahwa setiap orang memiliki sifat-sifat khusus yang memerlukan penanganan khusus pula dalam hubungan dengan pengembangan potensinya.

Kepribadian seorang pelatih dapat pula membentuk kepribadian atlet yang menjadi asuhannya. Hal terpenting yang harus ditanamkan pelatih kepada atletnya adalah bahwa atlet percaya pada pelatih bahwa apa yang diprogramkan dan dilakukan oleh pelatih adalah untuk kebaikan dan kemajuan si atlet itu sendiri. Untuk bisa mendapatkan kepercayaan tersebut dari atlet, pelatih tidak cukup hanya memintanya, tetapi harus membuktikannya melalui ucapan, perbuatan, dan ketulusan hati. Sekali atlet mempercayai pelatih maka seberat apapun program yang dibuat pelatih akan dijalankan oleh si atlet dengan sungguh-sungguh.

(Sumber: "PEDOMAN PRAKTIS BERMAIN BULUTANGKIS", Oleh: PB PBSI)

Minggu, Desember 5

istilah2 dalam bulutangkis


Istilah-istilah Dalam Permainan Bulutangkis


alley Areal tempat bermain di mana bola dapat diperhitungkan masuk atau keluar dalam berbagai kesempatan dalam setiap permainan. Contohnya, side alley adalah areal permainan pada kedua sisi lapangan antara garis samping untuk tunggal dan garis samping untuk ganda.

backhand. Setiap pengembalian atau pukulan yang dilakukan dari sisi tubuh yang tidak dominan.

backhand grip
Cara anda memegang raket untuk memukul setiap pengembalian bola dari sisi yang tidak dominan. Dalam bulutangkis, pukulan ini biasanya dilakukan dengan grip handshake atau pistol, yang dipegang dengan ibu jari dominan pada posisi mengarah ke atas pada bagian atas sisi kin pegangan raket.

backswing
Bagian dari ayunan yang menggerakkan raket ke arah belakang sebagai persiapan untuk melakukan forward swing.

base
Titik di dekat bagian tengah lapangan yang harus menjadi target hampir dari semua pengembalian bola anda.

baseline
Garis yang terdapat pada batas belakang lapangan anda.

bird
Obyek yang dipukul dengan raket bulutangkis sebagai tanda bahwa rally dimulai. Sama juga dengan shuttle atau shuttlecock (bola).

carry
Pengembalian bola yang ditangkap dengan permukaan raket dan dilemparkan ke atas net. Pukulan ini kadang-kadang disebut dengan pukulan lemparan. Pukulan ini dianggap sah selama dilakukan dengan gerak lanjut dari pukulan normal dan bukannya pukulan ganda.

cross court
Pengembalian atau pukulan yang mengarahkan bola menyilang melintasi lapangan.

double hit
Hal ini terjadi jika bola dipukul dua kali secara berurutan pada pukulan yang sama dan merupakan suatu kesalahan (fault) (pukulan ganda).

Doubles service court
Ini merupakan daerah tempat servis di mans servis ganda harus dilakukan. Kedua sisi lapangan bulutangkis memiliki lapangan servis kanan dan kiri untuk ganda. Kedua lapangan servis ganda tersebut dibatasi dengan garis servis pendek, garis tengah garis samping untuk ganda, dan garis servis belakang untuk ganda.

Drive
Pengembalian atau pukulan yang mengarahkan bola dalam lintasan yang relatif datar, paralel, dengan lantai, tapi dipukul cukup tinggi untuk melewati net.

drive serve
Servis keras dan cepat yang melintasi net dengan lintasan mendatar dan biasanya diarahkan pada bahu lawan yang tidak dominan. Servis ini lebih sering digunakan pada partai ganda. (servis drive)

drop shot
Pengembalian atau pukulan yang melintasi net dan jatuh ke arah lantai dipukul secara underhand atau overhead dari dekat net atau belakang lapangan. (pukulan drop)

fault
Setiap pelanggaran peraturan.

flick serve or flick return
Servis atau pengembalian yang cepat dan datar yang dimulai dengan pergelangan tangan yang melambungkan bola tinggi ke atas jauh di luar jangkauan lawan ke bagian tepi lapangan lawan. Pukulan ini biasanya digunakan dalam partai ganda jika lawan anda secara konsisten memotong servis anda. (servis atau pengembalian flick)

follow -through
Lanjutan dari pukulan setelah raket mengontak bola. (gerakan akhir)

forehand
Setiap pengembalian atau pukulan yang dilakukan dari sisi tubuh yang dominan.

forehand grip
Cara anda memegang raket untuk mengembalikan bola dari sisi yang dominan. Grip handshake atau pistol merupakan grip fore-hand yang paling umum dalam permainan bulutangkis.

frontcourt
Kira-kira 11 kaki (3,35 meter) pertama dari lapangan pada kedua sisi net atau bagian tengah dari net. (lapangan bagian depan)

Game
Pertandingan yang memiliki sasaran sejumlah angka tertentu.

hairpin drop shot
Bentuk dari pukulan drop yang dimainkan dari dekat net dimana bola bergerak naik pada satu sisi net dan bergerak turun pada sisi lainnya sehingga membentuk lintasan yang tajam. (pukulan drop tajam)

hands down
Ini mengacu pada pasangan atau yang kehilangan kesempatan meservis. One hand down berarti pemain pertama kehilangan servis. Two hands berarti kedua pemain kehilangan servis mengindikasikan pergantian bola (servis over). Servis awal pada permainan ganda dimulai dengan one hand down.

inning
Giliran perorangan atau regu untuk melakukan servis atau mengembalikan servis dari salah satu sisi lapangan. (babak)

IBF
International Badminton Federation merupakan badan pemerintahan untuk permainan dan pertandingan bulutangkis & seluruh dunia. (Federasi Bulutangkis Internsional)

let
Suatu bentuk campur tangan di mana angka terpaksa dimainkan kembali.

love
Dalam penilaian, berarti kosong atau belum ada angka yang didapat.

love-all
Kosong sama atau belum ada angka yang didapat.

match
Pertandingan yang memiliki jumlah game tertentu. Untuk memenangkan match, anda biasanya harus memenangkan dua dari tiga permainan/game.

match point
Angka yang memenangkan match.

mixed doubles
Permainan di mana pemain putra dan putri bermain berpasangan. (ganda campuran)

net shot
Setiap pengembalian di mana bola mengenai net dan jatuh ke bagian lapangan lawan. Istilah ini juga dapat digunakan untuk setiap pukulan pengembalian drop yang dilakukan dari dekat net. (pukulan net)

overhead
Setiap pukulan yang dilakukan pada angka di atas ketinggian kepala. placement Pengembalian untuk memukul titik tertentu pada lapangan lawan di mana lawan akan sulit mengembalikan bola. (penempatan)

push shot
Pengembalian atau pukulan yang didorong dengan halus ke lapangan lawan. Dalam partai ganda, pukulan ini biasanya berarti malewati lawan yang berada di dekat net. (pukulan push)

rally
Istilah ini mengacu pada pertukaran bola melintasi net antara pemain yang berlawanan dalam memperebutkan setiap angka.

ready position
Ini adalah posisi dasar menunggu anda di dekat bagian tengah lapangan, yang sama jaraknya dari semua sudut lapangan. Posisi ini memberikan kesempatan yang paling baik untuk meraih semua pengembalian yang dilakukan lawan. (posisi siap)

receiver
Setiap pemain yang menerima servis. (pemain yang menerima serbis)

return
Setiap metode pemukulan untuk mengembalikan bola melintasi net kembali ke arah lawan. (pengembalian)

serve or service
Tindakan menempatkan bola dalam permainan pada awal angka atau rally. (servis)

server
Pemain yang melepaskan pukulan pertama. (pemain yang melakukan servis)

service court
Salah satu dari dua bagian lapangan yang dipisahkan oleh net di mana servis harus diarahkan. Terdapat lapangan servis kanan dan kiri untuk permainan ganda dan tunggal. Lapangan tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda. (lapangan servis)

service over
Anda kehilangan servis, servis berpindah ke lawan anda. (pindah servis)

setting
Metode memperpanjang permainan seri yang merupakan hal yang unik dalam bulutangkis. Game angka ditambah jika skor ketat 9-sama atau 10-sama terjadi dalam tunggal putri atau 13-sama atau 14-sama dalam tunggal putra dan ganda. Pilihan untuk menentukan setting ditentukan oleh pemain atau regu yang meraih skor sari terlebih dahulu.

short service line
Ini adalah garis bagian depan yang menentukan lapangan servis awal dan terletak 6 kaki dan 6 inchi (1,98 meter) dari net. (garis servis pendek)

shuttle atau shuttlecock
Benda yang digunakan dalam permainan bulu tangkis. Sama dengan bola.

side out
Kehilangan servis. Sama dengan servis over, pindah servis, atau two hands down dalam partai ganda.

singles service court
Ini merupakan daerah servis di mana servis tunggal harus dilepaskan. Kedua sisi lapangan bulu tangkis memiliki lapangan servis kanan dan kiri untuk tunggal. Kedua lapangan servis tersebut dibatasi oleh garis servis pendek, garis tengah, garis samping untuk tunggal dan garis batas belakang.

singles sideline
Garis samping pada lapangan partai tunggal menentukan bagian luar dari lapangan permainan tunggal. Lapangan untuk partai tunggal adalah 17 kaki (5,18 meter) lebar dari garis samping kiri ke garis samping kanan. (garis samping lapangan tunggal)

smash
Pengembalian atau pukulan overhead yang dipukul ke arah bawah menuju lapangan lawan dengan kecepatan dan kekuatan yang besar.

stroke
Tmdakan memukul bola dengan raket anda. (pukulan)

Thomas Cup
Kejuaraan beregu putra dunia yang hampir sama dengan Davis Cup dalam tenis. Pertama kali diadakan pada tahun 1948. Kejuaraan Thomas Cup diadakan setiap dua tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka genap.

Uber Cup
Uber Cup adalah kejuaraan beregu putri dunia. Kejuaraan ini dimulai pada tahun 1957 dan diberi nama sesuai dengan nama mantan pemain Inggris, Mrs. H.S. Uber. Kejuaraan ini juga diadakan setiap dua tahun pada tahun yang berakhiran angka genap.

Sumber: “BULUTANGKIS, Petunjuk Praktis Untuk Pemula Dan Lanjut

Selasa, November 30


Prestasi Bulutangkis Menurun

GUANGZHOU, POS KUPANG.Com - Pasangan ganda putera, Markis Kido/Hendra Setiawan berhasil menyumbang satu medali emas dari cabang bulutangkis. Ini berarti target Pengurus Besar Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) telah terpenuhi. Namun, manajer tim, Yacob Rusdianto tetap mengakui adanya penurunan prestasi dari bulutangkis Indonesia saat ini.

Indonesia dulu terkenal merajai olahraga tepok bulu ini di berbagai kejuaraan baik nomor putera maupun puteri. Akan tetapi kini kesulitan mengimbangi pengingkatan prestasi bulutangkis negara asia lainnya seperti China, Korea Selatan bahkan Malaysia.

"Target Indonesia di bulutangkis memang satu emas dan sudah terpenuhi sudah dari ganda putra. Selama event pemain menunjukkan permainan terbaik mereka. Malaysia, Thailand, Cina Taipei juga memperlihatkan performance terbaik di Asian Games ini, dan satu emas dan tiga perunggu merupakan hasil maksimal," kata Yacob.

Menyusul jejak Kido/Hendra, pasangan ganda putera lainnya yaitu Alven Yulianto/ Muhammad Ahsan mempersembahkan medali perunggu. Dengan perolehan ini cabor bulutangkis tercatat menyumbang empat medali yang terdiri dari satu emas dan tiga perunggu. Dua perunggu lainnya diperoleh dari nomor beregu putra dan putri.

Meski telah memenuhi target, Yacob tetap berjanji akan melakukan evaluasi pasca-multievent olahraga terbesar se-Asia ini. Hal itu, menurutnya merupakan bahan perbaikan ke depan untuk mempersiapkan regenerasi atlet secara lebih cepat dan tepat lagi, sehingga mampu mempertahankan prestasi yang telah dilakukan atlet-atlet yang saat ini sudah memasuki usia senior.

"Fokus PBSI saat ini persiapan tim untuk SEA Games 2011, dan tim ini masih menjadi ujung tombak," pungkas Yacob.

Rabu, November 24

Teknik Dasar Bulutangkis

1. Pegangan Raket (Grip)
Bulutangkis dikenal sebagai olahraga yang banyak menggunakan pergelangan tangan. Karena itu, benar tidaknya cara memegang raket akan sangat menentukan kualitas pukulan seseorang.

Salah satu teknik dasar bulutangkis yang sangat penting dikuasai secara benar oleh setiap calon pebulutangkis adalah pegangan raket. Menguasai cara dan teknik pegangan raket yang betul, merupakan modal penting untuk dapat bermain bulutangkis dengan baik pula. Oleh karena itu, apabila teknik pegangan raket salah dari sejak awal, sulit sekali meningkatkan kualitas permainan. Pegangan raket yang benar adalah dasar untuk mengembangkan dan meningkatkan semua jenis pukulan dalam permainan bulutangkis.

Cara pegangan raket yang benar adalah raket harus dipegang dengan menggunakan jari-jari tangan (ruas jari tangan) dengan luwes, rileks, namun harus tetap bertenaga pada saat memukul kok. Hindari memegang raket dengan cara menggunakan telapak tangan (seperti memegang golok).

Jenis Pegangan Raket
Pada dasarnya, dikenal beberapa cara pegangan raket. Namun, hanya dua bentuk pegangan yang sering digunakan dalam praktek, yaitu cara memegang raket forehand dan backhand. Semua jenis pukulan dalam bulutangkis dilakukan dengan kedua jenis pegangan ini.

Dua macam cara memegang raket di atas, pada kenyataannya digunakan secara bergantian sesuai situasi dan kondisi permainan. Untuk tahap awal para pemula biasanya diajarkan cara memegang forehand terlebih dahulu, kemudian baru backhand.

Pada akhirnya untuk pemain yang sudah terampil akan terlihat pegangan raketnya hanya satu grip. Ini terjadi karena pergeseran pegangan tangan dari forehand ke backhand dan sebaliknya hanya sedikit dan terjadi secara otomatis.

Pegangan raket yang benar, dan memanfaatkan tenaga pergelangan tangan pada saat memukul kok, dapat meningkatkan mutu pukulan dan mempercepat laju jalannya kok. ini berarti, telah menggunakan tenaga secara lebih efisien namun efektif. ltulah sebabnya, sejak dini peserta latih harus membiasakan memukul kok dengan menggunakan tenaga pergelangan tangan (tenaga pecut).

Cara Memegang Raket Forehand
1. Pegang raket dengan tangan kiri, kepala raket menyamping. Pegang raket dengan cara seperti "jabat tangan". Bentuk "V" tangan diletakkan pada bagian gagang raket.
2. Tiga jari, yaitu jari tengan, manis dan kelingking menggenggam raket, sedangkan jari telunjuk agak terpisah.
3. Letakkan ibu jari diantara tiga jari dan telunjuk.



Gambar Posisi Genggaman Raket Forehand

Cara Memegang Raket Backhand
Untuk backhand griop, geser "V" tangan ke arah dalam. Letaknya di samping dalam. bantalan jempol berada pada pegangan raket yang lebar.



Gambar Posisi Genggaman Raket Backhand

Cara Latihan
Sebelum praktek melakukan latihan pukulan, perlu dilakukan latihan untuk adaptasi menggerak-gerakkan pergelangan tangan dengan tetap memegang raket dengan benar.
1. Peserta latih dibiasakan selalu memegang raket dengan jari-jari tangan, luwes, dan tetap rileks, tetapi tetap mempunyai tenaga.
2. Lakukan gerakan raket ke axah kanan dan kiri, dengan menggunakan tenaga pergelangan tangan. Begitu juga gerakan ke depan dan ke belakang, sehingga terasa betul terjadinya tekukan pada pergelangan tangan.
3. Gerakkan pergelangan tangan ke atas dan ke bawah.
4. Memukul bola (kok) ke tembok.
5. Bouncing ball.

Kesalahan Yang Terjadi
a. Memegang raket dengan menggenggam, jari-jari rapat dan sejajar.
b. Posisi "V" tangan berada pada bagian grip raket yang lebar.

Sumber: " PEDOMAN PRAKTIS BERMAIN BULUTANGKIS ", Oleh: PB PBSI

Sabtu, Juli 17

REKRUTAN AWAL ATLET BERPRESTASI

dalam rekrutmen awal mencari atlet berprestasi.


Rekrutmen Awal

Rekrutmen awal mempunyai tujuan mendapatkan calon peserta olahraga yang lebih terarah, sehingga betul-betul mendapatkan atlet yang tekun tangguh dalam cabang olahraganya. Dengan demikian maka ia akan mampu mencapai prestasi puncaknya pada saat diharapkan.

Untuk mencapai hal itu dapat diterapkan beberapa cara seperti berikut:

wawancara

observasi

pengukuran


Wawancara

Wawancara bermaksud untuk mengetahui latar belakang seseorang mengapa ia ikut atau memilih olahraga cabang tertentu dalam mengisi aktivitas fisiknya. Apa motivasi yang ada di balik pilihannya itu. Dalam mewawancarai tersebut sedpat mungkin dilakukan sedemikian rupa sehingga yang diwawancarai tidak menyadari dirinya sedang diwawancarai. Hal itu untuk mendapatkan jawaban yang objektif, jujur dan muncul dari dalam hatinya sendiri. Wawancara dilaksanakan dalam situasi yang kondusif untuk itu, dan tetap dijaga kerahasiaan dan hak pribadi seseorang. Si pewawancara diharapkan juga mempunyai atau memegang kriteria tertentu, motivasi yang mana dipakai untuk diterapkan menerima atau tidak menerima calon-calon yang diwawancarai.

Pengalaman menunjukkan bahwa seseorang memilih cabang olahraga tertentu, karena beberapa alasan seperti ingin menjadi juara, ingin mendapatkan ketenaran nama, ingin mencari uang, menjadi idola publik, kebanggaan keluarga, batu loncatan ke tujuan lain. Jelas bahwa tidak semua tujuan-tujuan tersebut akan mampu mengantarkan seseorang menjadi juara. Juara atau prestasi puncak merupakan produk akumulasi dari latihan yang terartur dan benar dalam waktu yang lama, dan terprogram dengan baik.


Observasi

Seandainya seseorang telah terpilih menjadi atlet karena telah lolos dalam wawancara, maka berikutnya harus diobservasi gerak-gerik dan perilakunya selama berlatih dan melaksanakan aktivitas fisiknya. Keseriusan menjalankan program, keteraturan mengisi waktu hidupnya dalam sehari, seminggu, bulanan, pandangan hidupnya dalam jangka pendek, menengah =; semuanya itu disebut sebagai menejemen waktu. Hubungannya dengan calon pelatih atau oknum pimpinan cabang olahraga, serta apresiasinya terhadap program pelatihan harus diobservasi secara berkesinambungan. Tanpa itu maka banyak calon berhenti di tengah jalan, atau minggat atau menjadi kutu loncat ke bidang lain yang lebih menjanjikan.


Pengukuran

Memang banyak teori dapat diterapkan dalam pengukuran untuk tujuan mendapatkan calon-calon atlet. Perlu disadari semua cara tidak ada yang paling sempurna; ada nilai baik ada nilai kekurangannya. Karenanya maka salah satu dapat dipakai asal dijaga keberlanjutannya.

Di antara cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:

-berat badan ideal

-pemeriksaan kesehatan statis

-pemeriksaan kesehatan dinamis

-somatotipe tubuh

Dalam tulisan ini akan difokuskan kepada pengukuran somatotipe tubuh. Mengapa itu? Karena dari beberapa studi telah dibutikan bahwa penentuan somatotipe tubuh didapatkan gambaran jelas mengenai somatogram antara atlet dengan non atlet.


Pengukuran Somatotipe

Somatotipe adalah penilaian tubuh manusia atas dasar penampilan fisik. Unsur somatotipe dibentuk oleh elemen lemak bawah kulit, ukuran tinggi badan, ukuran lebar tulang paha dan lengan atas, lingkaran bisep dan betis, dan berat badan.

Somatotipe ditentukan oleh tiga indikator, yaitu endomorf, mesomorf, dan ektomorf. Endomorf berhubungan dengan lemak bawah kulit; mesomorf berhubungan dengan sistem muskularis; dan ektomorf berhubungan dengan tinggi dan berat badan. Jadi hasil pengukuran somatotipe seseorang berupa tiga buah angka (I, II, III) dimana I adalah nilai endomorf, II adalah nilai mesomorf, dan III adalah nilai ektomorf. Masing-masing nilai mempunyai rentangan dari terkecil 1 dan tertinggi 7 untuk ketiga komponen somatotipe tersebut. Sebagai suatu contoh nilai soamtotipe seseorang 1, 2, 5 itu artinya bahwa nilai endomorf-nya 1, nilai mesomorf-nya 2, dan nilai ektomorf-nya 5. Orang tersebut berperawakan tinggi kurus. Seorang atlet semestinya mempunyai nilai endomorf rendah, mesomorf tinggi dan nilai ektomorf agak tinggi.

Cara perhitungan untuk mendapatkan nilai ketiga komponen tersebut sebagai di bawah ini.


1) Endomorf

Untuk mendapatkan nilai endomorf tubuh diperlukan tebal lemak bawah kulit dengan

menghitung lipatan kulit di empat tempat yaitu:


trisep (lengan atas) : ....... mm,

subskapula : .........mm,

suprailiaka : .........mm

Jumlah : .....................mm


-betis : .........mm

(Cara perhitungannya lihat lampiran: Komponen I).


2) Mesomorf

Untuk mengukur mesomorf, diperlukan data sebagai berikut:


- tinggi badan : .............cm

- lebar humerus : .............cm

- lebar femur : .............cm

- lingkar bisep : .............cm

lingkar bisep – T = ................. - .....................= ............ cm

-lingkar betis : .............cm

lingkar betis – B = .................. - ......................= ............ cm

-rumus Mesomorf =

(D/8 + K) + 4,0

(Cara penghitungannya lihat lampiran: Komponen II).


3) Ektomorf

Untuk mengukur ektomorf diperlukan data sebagai berikut:


-tinggi badan : ........ cm

-berat badan : ........ kg


Rumus ektomorf: tinggi badan dibagi dengan hasil akar pangkat tiga berat badan. Atau nilainya dicari di dalam tabel (lihat lampiran yang berjudul: Nomogram, Menentukan Hasil Rumus Tinggi Badan/V Berat Badan).


Dari ketiga nilai tersebut (endomorf, mesomorf, ektomorf) akhirnya dapat digambarkan somatogramnya dengan memakai sumbu X dan Y sesuai dengan lampiran somatogram.

Untuk dapat membuat gambar dalam somatogram diperlukan beberapa perhitungan untuk mendapatkan nilainya pada sumbu X dan sumbu Y, sebagai berikut:

-untuk sumbu X = nilai ektomorf – nilai endomorf

-untuk sumbu Y = 2 x mesomorf – (endomorf + ektomorf)

dengan demikian setiap individu yang diukur akan punya dua nilai yaitu X dan Y; dengan patokan nilai positif digambar di kanan dari nilai 0 dan nilai negatif digambar di sebelah kiri nilai 0 (lihat lampiran somatogram). Bersama naskah ini juga disertakan lampiran blanko pengukuran somatotipe tubuh yang dikeluarkan oleh Program Studi Magister olahraga Program Pascasarjana Universitas Udayana, yang dapat dipakai pegangan dan pedoman dalam melakukan pengukuran somatotipe tubuh.

Peralatannya terdiri dari:

skin caliper untuk mengukur tebal lipatan kulit;

anthropometer untuk mengukur tinggi badan, tebal tulang-tulang, besar lingkaran betis, dan lingkaran lengan atas; dan

timbangan berat untuk mengukur berat badan.


Pembahasan

Dengan mendapatkan nilai endomorf, mesomorf, dan ektomorf maka dapat dibuatkan somatogramnya. Dalam somatogram akan jelas lokasi kelompok atlet dan non-atlet. Kelompok atlet terletak di bagian atas, sedangkan non-atlet di bagian bawah. Itu artinya bahwa kelompok non-atlet menguasai kuadran bawah, berarti unsur mesomorf-nya rendah. Dengan lain kata sistem otot-ototnya kurang berkembang. Bagian atas menunjukkan sistem otot-otot berkembang baik.

Dalam mencari bibit atlet, atau rekrutmen awal maka sebaiknya tidak memilih atlet yang gendut, perut membuncit, timbunan lemak berlebih di semua bagian tubuh. Karena calon atlet yang demikian itu belum apa-apa sudah menderita beban dari berat badannya yang lebih. Pasti geraknya kurang lincah. Maka pilihlah yang komponen mesomorf-nya tinggi, endomorf rendah. Sebenarnya dengan pengukuran berat badan ideal saja sudah mengarahkan mendapatkan calon atlet yang bertubuh atletis; kecuali untuk beberapa cabang olahraga yang mengandalkan berat badan (tinju, gulat, angkat berat, sumo) tentu lain dasar seleksinya.

Pengalaman dari beberapa studi sebelumnya bahwa nilai somatotipe juara dunia berbeda dengan kelompok non-atlet. Nilai somatotipe peraihrangking 1-10 dalam kejuaraan dunia dalam cabang olahraga tertentu menunjukkan somtogramnya berbeda dengan kelompok non-atlet. Demikian pula dengan hasil penelitian di Bali, kelompok atlet Kontingen Bali berbeda dengan non-atlet; atlet Bali berada dalam kuadran yang sama dengan para penari Bali. Itu berarti profesi penari yang tiap hari melakukan pentas mempunyai nilai somatotipe sesuai dengan atlet. Hal itu menunjukkan kuantitas aktivitas fisik mereka sudah sama dengan melakukan olahraga.

Untuk rekrutmen awal, maka disarankan pengukuran somatotipe tubuh calon dapat dipakai pegangan. Setelah masuk menjadi atlet maka barulah dilatih dengan teknik keterampilan, pembinaan kesegaran jasmani, serta strategi/teknik berlomba. Jalan lebih pendek atau lebih ekonomis kalau memilih atlet berdasarkan pemeriksaan somatotipe tubuh dibandingkan dengan tanpa persiapan sama sekali.

Dari pembahasan di atas satu hal yang perlu diingat ialah bahwa satu cara atau metode mempunyai nilai lebih unggul dibandingkan dengan cara yang lainnya, tetapi juga selalu disertai dengan kekurangannya sendiri. Untuk itu, selalu dikaji nilai keuntungannya sehingga metode pengukuran yang dipilih selalu lebih menguntungkan.


Simpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik butir simpulan sebagai berikut:

1) rekrutmen awal atlet berprestasi dimulai dari penilaian fisik calon, yang paling mudah dengan nilai berat badan ideal;

2) lebih mengarah lagi disusul dengan pemeriksaan somatotipe tubuh (endomorf, mesomorf, ektomorf), karena dnegan cara tersebut telah didapatkan calon-calon yang atletis; dan

3) pengukuran somatotipe tubuh memerlukan peralatan dan keterampilan tertentu.


Daftar Kepustakaan


Adiputra, N. 1988. Somatotipe Atlet kontingen Bali dalam PON XI di Jakarta. Majalah Ilmiah Udayana. Th XV. no.18: 58-70.


Adiputra, N. 1988. Body Composition and Somatotype Characteristics of Balinese dancers. Majalah Kedokteran Udayana. No. 59 Januari: 14-18.


Adiputra, N. 1989. Somatotipe Hansip Desa Sidakarya. Majalah Kedokteran Udayana.no.63 Januari: 11-15.


Adiputra, N. 1990. Somatotype of Athletes and Non-athletes. Majalah Ilmiah Udayana. Th.XVII.no.23: 9-13.


Adiputra, N. 1992. Physical Fitness of Balinese Dancer. Majalah Kedokteran Udayana. No.75, Januari: 33-36.


Adiputra, N. 1992. Pengaruh Latihan Menari Terhadap Kesegaran Jasmani. Jurnal Pascasarjana Unair. No.3 (2): 1-15.


Fox, EL; Bowers, RW; Fors, ML. 1993. The Physiological Basis for Exercise and Sport. Brown & Benchmark. Brown Common Inc: 669-673.

Selasa, Juli 13

Pelatihan Phisik

Permainan bulutangkis sarat dengan berbagai kemampuan dan keterampilan gerak yang kompleks. Sepintas lalu dapat diamati bahwa pemain harus melakukan gerakan-gerakan seperti lari cepat, berhenti dengan tiba-tiba dan segera bergerak lagi, gerak meloncat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan langkah lebar tanpa pernah kehilangan keseimbangan tubuh.

Gerakan-gerakan ini harus dilakukan berulangulang dan dalam tempo lama, selama pertandingan berlangsung. Akibat proses gerakan itu akan menghasilkan "kelelahan", yang akan berpengaruh langsung pada kerja jantung, paru-paru, sistem peredaran darah, pernapasan, kerja otot, danpersendian tubuh.

Karena itu, pebulutangkis sangat penting memiliki derajat kondisi fisik prima. Melalui proses pelatihan fisik yang terprogram baik, faktor-faktor tersebut dapat dikuasai. Dengan kata lain pebulutangkis harus memiliki kualitas kebugaran jasmani yang prima. Ini akan berdampak positif pada kebugaran mental, psikis, yang akhirnya berpengaruh langsung pada penampilan teknik bermain.

Itulah sebabnya pebulutangkis sangat membutuhkan kualitas kekuatan, daya tahan, fleksibilitas, kecepatan, agilitas, dan koordinasi gerak yang baik. Aspek-aspek tersebut sangat dibutuhkan agar mampu bergerak dan bereaksi untuk menjelajahi setiap sudut lapangan selama pertandingan.

A. Sistem Pelatihan Fisik Umum

Program dan aplikasi pelatihan fisik bulutangkis harus dirancang melalui tahapan sebagai berikut:

a. Persiapan fisik umum yang bertujuan meningkatkan kemampuan kerja organ tubuh, sehingga memudahkan upaya pembinaan dan peningkatan semua aspek pelatihan pada tahap berikutnya.
b. Persiapan fisik khusus bertujuan meningkatkan kemampuan fisik dan gerak yang lebih baik menuju pertandingan.
c. Peningkatan kemampuan kualitas gerak khusus pemain. Pada tahap ini pelatihan bertujuan untuk memahirkan gerakan kompleks dan harmonis yang dibutuhkan setiap pemain untuk menghadapi pertandingan.

Cara Terbaik untuk Mempersiapkan Kondisi Fisik Umum Pemain

1. Program Latihan Lari
Latihan lari sangat penting dan balk untuk mengasah kemampuan kerja jantung, paruparu, dan kekuatan tungkai. Membiasakan pemain berlatih lari selama 40-60 menit tanpa berhenti, yang dilakukan 3-4 kali seminggu, sangat baik untuk membina kemampuan daya tahan aerobik dan kebugaran umum pemain.

2. Program Latihan Senam
Bentuk-bentuk latihan senam peregangan untuk seluruh bagian tubuh dan persendian harus mendapat perhatian. Latihan peregangan hendaknya diselingi gerakan untuk memperkuat bagian tubuh bagian atas dan bawah yang dilakukan secara bergantian.

3. Program Latihan Loncat Tali
Latihan ini sangat balk untuk membina daya tahan, kelincahan kaki, dan kecepatan serta melatih kemampuan gerak pergelangan tangan lebih lentur dan kuat. Proses latihan dapat dilakukan de-ngan loncat satu kaki secara bergantian (seperti lari biasa), loncat dua kaki, dan masih banyak bentuk variasinya.

4. Program Latihan Gabungan
Model atau sistem pelatihan ini adalah menggunakan berbagai alat bantu seperti bangku, gawang ukuran kecil, tiang, tongkat, tali, bola, dan sebagainya. Tujuan latihan ini adalah membina dan meningkatkan kamampuan dan kete-rampilan gerak pemain sebagai upaya untuk pengkayaan gerak. Pelatih harus cermat dan terampil menciptakan rangkaian gerak yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan dalam permainan bulutangkis, di samping memberikan prioritas pada pembinaan aspek-aspek kelincahan, kegesitan, dan koordinasi gerak yang memang dibutuhkan dalam bulutangkis.

5.Latihan Pemanasan
Banyak pelatihan kurang memberikan perhatian khusus perihal peranan dan fungsi latihan pemanasan yang benar dan betul. Latihan pemanasan yang dikemas dengan benar akan memberikan pe-ngaruh positif pada proses kerja organ tubuh, mekanisme peredaran darah, dan pernapasan. Itu semua akan berpengaruh langsung untuk kerja berat selanjutnya. Di samping itu, sangat penting untuk menghindari terjadinya berbagai cedera otot, persendian, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya.
Pada umumnya latihan pemanasan berbentuk:

a. Lari jarak pendek yang bervariasi seperti lari sambil angkat paha/lutut, lari mundur, lari maju dan ke samping.
b. Melakukan gerakan-gerakan senam yang bersifat mere-gang otot tungkai, paha belakang, depan, lengan, pergelangan kaki, pinggang, otot bahu, dll.
c. Kualitas peregangan harus dilakukan dengan pelan sampai terasa terjadi proses peregangan pada bagian otot dan persendian yang dilatih. Hindari melakukan gerakan sentak, yang dapat menyebabkan rasa sakit pada otot atau persendian.

6. Latihan Pendinginan
Latihan ini dilakukan setelah program latihan selesai dilaksanakan sebagai upaya agar bagian otot yang bekerja berat tadi kembali pada posisi rileks dan tidak kaku. Bentuk latihannya adalah senam dan gerakan meregang. Kualitas latihan meregang, khususnya untuk otot besar seperti paha belakang dan depan, ping-gang, punggung, otot lengan, bahu, dada, dan berbagai persendian tubuh, harus dicermati betul. Lakukan gerakan pendinginan ini dengan benar,

B. Sistem Pelatihan Fisik Khusus

Pelatihan fisik bulutangkis dituntut untuk memahami dan mengetahui secara spesifik kebutuhan gerak olahraga ini. Bahkan harus mendalami makna proses kerja otot, sistem energi, dan mekanisme gerak yang terjadi dalam permainan bulutangkis. Atas dasar pengetahuan ini, pelatih akan mampu merancang bentuk-bentuk latihan fisik secara spesifik, sesuai kebutuhan pemain.

1. Latihan Daya Tahan
(Aerobik dan Anaerobik)
Kemampuan daya tahan dan stamina dapat dikembangkan melalui kegiatan lari dan gerakan-gerakan lain yang memiliki nilai aerobik. Biasakan pemain menyenangi latihan lari selama 40-60 menit dengan kecepatan yang bervariasi. Tujuan latihan ini adalah meningkatkan kemampuan daya tahan aerobik dan daya tahan otot. Artinya, pemain dipacu untuk berlari dan bergerak dalam waktu lama dan tidak mengalami kelelahan yang berarti.

Selanjutnya proses latihan lari ini ditingkatkan kualitas frekuensi, intensitas, dan kecepatan, yang akan berpengaruh terjadinya proses anaerobik (stamina)pemain. Artinya, pemain itu mampu bergerak cepat dalam tempo lama dengan gerakan yang tetap konsisten dan harmonis.

2. Latihan Kekuatan
Pemain bulutangkis sangat membutuhkan aspek kekuatan. Berdasarkan analisis dan cukup dominan pemain melakukan gerakan-gerakan seperti meloncat ke depan, ke belakang, ke samping, memukul sambil loncat, melakukan langkah lebar dengan tiba-tiba. Semua gerak ini membutuhkan kekuatan otot dengan kualitas gerak yang efisien.
Cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan kekuatan ini adalah berlatih menggunakan beban atau dengan kata lain latihan beban (weight training). Sebaiknya sebelum melakukan program latihan beban sesungguhnya, disarankan agar pemain lebih dulu mengenal berbagai bentuk gerakan seperti:
- mendorong (push up, pull up)
- bangun tidur, angkat kaki
- memperkuat otot punggung, pinggang
- jongkok berdiri untuk membina kekuatan tungkai - loncat-loncat di tempat atau sambil bergerak.
Proses selanjutnya adalah meningkatkan kualitas geraknya dengan menggunakan beban (weight training) yang sebenarnya. Dianjurkan untuk tidak melakukan atau berlatih loncat di tempat yang keras karena akan berdampak terjadinya sakit, cedera pada bagian lutut, dan pinggang.

3. Latihan Kecepatan
Aspek kecepatan dalam bulutangkis sangat penting. Pemain harus bergerak dengan cepat untuk menutup setiap sudut-sudut lapangan sambil menjangkau atau memukul kok dengan cepat.
Cara untuk bergerak cepat adalah melatih kecepatan tungkai/kaki. Aspek kecepatan dalam bulutangkis juga bermakna pemain harus cekatan dalam mengubah arah gerak dengan tiba-tiba, tanpa kehilangan momen keseimbangan tubuh (agilitas). Bentuk-bentuk latihannya antara lain:
a. Lari cepat dalam jarak dekat
b .Lari bolak-balik, jarak enam meter (shuttle run)
c. Tingkatkan kualitas latihan dengan menggunakan beban, rintangan, dan lain-lain.
d. Jongkok-berdiri dan diikuti lari cepat dalam jarak dekat pula.

4. Latihan Kelenturan/Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah komponen kesegaran jasmani yang sangat penting dikuasi oleh setiap pemain bulutangkis. Dengan karakteristik gerak serba cepat, kuat, luwes namun tetap bertenaga, pembinaan kelenturan tubuh harus mendapat perhatian khusus.

Latihan fleksibilitas harus mendapat porsi yang cukup. Orang yang kurang lentur rentan mengalami cedera di bagian otot dan daerah persendian. Di samping itu, gerakannya cenderung kaku sehingga banyak menggunakan energi, kurang harmonis, kurang rileks, dan tidak efisien.
Latihan-latihan peregangan dengan kualitas gerakan yang benar memacu komponen otot dan persendian mengalami peregangan yang optimal. Oleh karena itu, fleksibilitas ini harus dilatih dengan tekun dan sistematis.

5. Model-Model Latihan Fisik dengan Menggunakan Alat Bantu Pelatihan

a. Latihan denganBola Medisin
Bola medisin yang beratnya bervariasi antara 1-5 kilogram merupakan alat bantu pelatihan, antara lain untuk kekuatan dan kecepatan melempar, membina kekuatan lengan, tungkai, dan kekuatan bagian atas dan bawah tubuh.
Bentuk latihan bola medisin ini antara lain dilakukan dengan melempar ke arah tembok dengan satu atau dengan dua lengan. Berdiri kira-kira 3-4 meter dari tembok, lalu lempar bola itu dan segera tangkap bola tersebut sambil lari mundur ke arah garis start, seperti layaknya gerak mundur dalam permainan bulutangkis.

b. Latihan Loncat Tali
Pemain bulutangkis dianjurkan untuk terampil dan menguasai bentuk latihan loncat tali ini. Pengaruh latihan ini sangat membantu untuk membina kekuatan kaki, pergelangan kaki, daya tahan, koordinasi gerak, dan membantu peningkatan kualitas gerak pergelangan tangan.
Latihan loncat tali dirancang dengan sistem interval antara lain sebagai berikut:

• Sesi I: • Sesi H:
1. 3 X 30 detik 1.5 X 25 detik
2. 5 X 25 detik 2. 7 X 20 detik
3. 7 X 20 detik 3. 5 X 30 detik
4. 3 X 30 detik 4. 3 X 40 detik

Masa istirahat antara kegiatan adalah 15-20 detik. Tingkatkan latihan ini dengan menambah jumlah sesi, waktu kegiatan masa istirahat diperpendek. Dalam aplikasi latihan loncat tali, pelatih harus berperan memberikan motivasi dan pengawasan gerak loncat, sehingga tujuan latihan tercapai dengan optimal.

c. Latihan Bayangan
Latihan ini berfungsi untuk meningkatkan kemampuan gerak kaki, kecepatan, serta daya tahan. Latihan ini dapat dijadikan sebagai program khusus, rutin bagi pemain agar langkah dan gerakan kaki (footwork) senantiasa ditingkatkan dan dipelihara terus.
Untuk meningkatkan kualitas latihan ini, pemain harus menggunakan "jaket pemberat" yang dibuat khusus untuk itu. Sangat balk untuk membina kualitas dan kecepatan gerak pemain.

d. Latihan Loncat Bangku/Gawang
Latihan ini berfungsi untuk membina kekuatan tungkai, konsentrasi, dan kecepatan gerak yang dibutuhkan dalam permainan. Bangku atau gawang dibuat dengan berbagai ukuran tinggi antara lain 40, 50, 70, 80 cm. Alat ini berfungsi sebagai alat pemberat, rintangan, tantangan, agar pemain terpacu untuk mengatasinya. Proses kerja "overload' (beban lebih) dengan menggunakan beban rintangan ini, latihan makin terasa berat bagi pemain.
Dalam pelaksanaan latihan, pelatih harus terampil meletakkan gawang/bangku itu sesuai dengan tujuan latihan dan kebutuhan pemain.



(Sumber: "PEDOMAN PRAKTIS BERMAIN BULUTANGKIS", Oleh: PB PBSI)