SELAMAT DATANG DI BLOG MR.BANAK....MAAF BARU BELAJAR,...

Sabtu, Juli 17

REKRUTAN AWAL ATLET BERPRESTASI

dalam rekrutmen awal mencari atlet berprestasi.


Rekrutmen Awal

Rekrutmen awal mempunyai tujuan mendapatkan calon peserta olahraga yang lebih terarah, sehingga betul-betul mendapatkan atlet yang tekun tangguh dalam cabang olahraganya. Dengan demikian maka ia akan mampu mencapai prestasi puncaknya pada saat diharapkan.

Untuk mencapai hal itu dapat diterapkan beberapa cara seperti berikut:

wawancara

observasi

pengukuran


Wawancara

Wawancara bermaksud untuk mengetahui latar belakang seseorang mengapa ia ikut atau memilih olahraga cabang tertentu dalam mengisi aktivitas fisiknya. Apa motivasi yang ada di balik pilihannya itu. Dalam mewawancarai tersebut sedpat mungkin dilakukan sedemikian rupa sehingga yang diwawancarai tidak menyadari dirinya sedang diwawancarai. Hal itu untuk mendapatkan jawaban yang objektif, jujur dan muncul dari dalam hatinya sendiri. Wawancara dilaksanakan dalam situasi yang kondusif untuk itu, dan tetap dijaga kerahasiaan dan hak pribadi seseorang. Si pewawancara diharapkan juga mempunyai atau memegang kriteria tertentu, motivasi yang mana dipakai untuk diterapkan menerima atau tidak menerima calon-calon yang diwawancarai.

Pengalaman menunjukkan bahwa seseorang memilih cabang olahraga tertentu, karena beberapa alasan seperti ingin menjadi juara, ingin mendapatkan ketenaran nama, ingin mencari uang, menjadi idola publik, kebanggaan keluarga, batu loncatan ke tujuan lain. Jelas bahwa tidak semua tujuan-tujuan tersebut akan mampu mengantarkan seseorang menjadi juara. Juara atau prestasi puncak merupakan produk akumulasi dari latihan yang terartur dan benar dalam waktu yang lama, dan terprogram dengan baik.


Observasi

Seandainya seseorang telah terpilih menjadi atlet karena telah lolos dalam wawancara, maka berikutnya harus diobservasi gerak-gerik dan perilakunya selama berlatih dan melaksanakan aktivitas fisiknya. Keseriusan menjalankan program, keteraturan mengisi waktu hidupnya dalam sehari, seminggu, bulanan, pandangan hidupnya dalam jangka pendek, menengah =; semuanya itu disebut sebagai menejemen waktu. Hubungannya dengan calon pelatih atau oknum pimpinan cabang olahraga, serta apresiasinya terhadap program pelatihan harus diobservasi secara berkesinambungan. Tanpa itu maka banyak calon berhenti di tengah jalan, atau minggat atau menjadi kutu loncat ke bidang lain yang lebih menjanjikan.


Pengukuran

Memang banyak teori dapat diterapkan dalam pengukuran untuk tujuan mendapatkan calon-calon atlet. Perlu disadari semua cara tidak ada yang paling sempurna; ada nilai baik ada nilai kekurangannya. Karenanya maka salah satu dapat dipakai asal dijaga keberlanjutannya.

Di antara cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:

-berat badan ideal

-pemeriksaan kesehatan statis

-pemeriksaan kesehatan dinamis

-somatotipe tubuh

Dalam tulisan ini akan difokuskan kepada pengukuran somatotipe tubuh. Mengapa itu? Karena dari beberapa studi telah dibutikan bahwa penentuan somatotipe tubuh didapatkan gambaran jelas mengenai somatogram antara atlet dengan non atlet.


Pengukuran Somatotipe

Somatotipe adalah penilaian tubuh manusia atas dasar penampilan fisik. Unsur somatotipe dibentuk oleh elemen lemak bawah kulit, ukuran tinggi badan, ukuran lebar tulang paha dan lengan atas, lingkaran bisep dan betis, dan berat badan.

Somatotipe ditentukan oleh tiga indikator, yaitu endomorf, mesomorf, dan ektomorf. Endomorf berhubungan dengan lemak bawah kulit; mesomorf berhubungan dengan sistem muskularis; dan ektomorf berhubungan dengan tinggi dan berat badan. Jadi hasil pengukuran somatotipe seseorang berupa tiga buah angka (I, II, III) dimana I adalah nilai endomorf, II adalah nilai mesomorf, dan III adalah nilai ektomorf. Masing-masing nilai mempunyai rentangan dari terkecil 1 dan tertinggi 7 untuk ketiga komponen somatotipe tersebut. Sebagai suatu contoh nilai soamtotipe seseorang 1, 2, 5 itu artinya bahwa nilai endomorf-nya 1, nilai mesomorf-nya 2, dan nilai ektomorf-nya 5. Orang tersebut berperawakan tinggi kurus. Seorang atlet semestinya mempunyai nilai endomorf rendah, mesomorf tinggi dan nilai ektomorf agak tinggi.

Cara perhitungan untuk mendapatkan nilai ketiga komponen tersebut sebagai di bawah ini.


1) Endomorf

Untuk mendapatkan nilai endomorf tubuh diperlukan tebal lemak bawah kulit dengan

menghitung lipatan kulit di empat tempat yaitu:


trisep (lengan atas) : ....... mm,

subskapula : .........mm,

suprailiaka : .........mm

Jumlah : .....................mm


-betis : .........mm

(Cara perhitungannya lihat lampiran: Komponen I).


2) Mesomorf

Untuk mengukur mesomorf, diperlukan data sebagai berikut:


- tinggi badan : .............cm

- lebar humerus : .............cm

- lebar femur : .............cm

- lingkar bisep : .............cm

lingkar bisep – T = ................. - .....................= ............ cm

-lingkar betis : .............cm

lingkar betis – B = .................. - ......................= ............ cm

-rumus Mesomorf =

(D/8 + K) + 4,0

(Cara penghitungannya lihat lampiran: Komponen II).


3) Ektomorf

Untuk mengukur ektomorf diperlukan data sebagai berikut:


-tinggi badan : ........ cm

-berat badan : ........ kg


Rumus ektomorf: tinggi badan dibagi dengan hasil akar pangkat tiga berat badan. Atau nilainya dicari di dalam tabel (lihat lampiran yang berjudul: Nomogram, Menentukan Hasil Rumus Tinggi Badan/V Berat Badan).


Dari ketiga nilai tersebut (endomorf, mesomorf, ektomorf) akhirnya dapat digambarkan somatogramnya dengan memakai sumbu X dan Y sesuai dengan lampiran somatogram.

Untuk dapat membuat gambar dalam somatogram diperlukan beberapa perhitungan untuk mendapatkan nilainya pada sumbu X dan sumbu Y, sebagai berikut:

-untuk sumbu X = nilai ektomorf – nilai endomorf

-untuk sumbu Y = 2 x mesomorf – (endomorf + ektomorf)

dengan demikian setiap individu yang diukur akan punya dua nilai yaitu X dan Y; dengan patokan nilai positif digambar di kanan dari nilai 0 dan nilai negatif digambar di sebelah kiri nilai 0 (lihat lampiran somatogram). Bersama naskah ini juga disertakan lampiran blanko pengukuran somatotipe tubuh yang dikeluarkan oleh Program Studi Magister olahraga Program Pascasarjana Universitas Udayana, yang dapat dipakai pegangan dan pedoman dalam melakukan pengukuran somatotipe tubuh.

Peralatannya terdiri dari:

skin caliper untuk mengukur tebal lipatan kulit;

anthropometer untuk mengukur tinggi badan, tebal tulang-tulang, besar lingkaran betis, dan lingkaran lengan atas; dan

timbangan berat untuk mengukur berat badan.


Pembahasan

Dengan mendapatkan nilai endomorf, mesomorf, dan ektomorf maka dapat dibuatkan somatogramnya. Dalam somatogram akan jelas lokasi kelompok atlet dan non-atlet. Kelompok atlet terletak di bagian atas, sedangkan non-atlet di bagian bawah. Itu artinya bahwa kelompok non-atlet menguasai kuadran bawah, berarti unsur mesomorf-nya rendah. Dengan lain kata sistem otot-ototnya kurang berkembang. Bagian atas menunjukkan sistem otot-otot berkembang baik.

Dalam mencari bibit atlet, atau rekrutmen awal maka sebaiknya tidak memilih atlet yang gendut, perut membuncit, timbunan lemak berlebih di semua bagian tubuh. Karena calon atlet yang demikian itu belum apa-apa sudah menderita beban dari berat badannya yang lebih. Pasti geraknya kurang lincah. Maka pilihlah yang komponen mesomorf-nya tinggi, endomorf rendah. Sebenarnya dengan pengukuran berat badan ideal saja sudah mengarahkan mendapatkan calon atlet yang bertubuh atletis; kecuali untuk beberapa cabang olahraga yang mengandalkan berat badan (tinju, gulat, angkat berat, sumo) tentu lain dasar seleksinya.

Pengalaman dari beberapa studi sebelumnya bahwa nilai somatotipe juara dunia berbeda dengan kelompok non-atlet. Nilai somatotipe peraihrangking 1-10 dalam kejuaraan dunia dalam cabang olahraga tertentu menunjukkan somtogramnya berbeda dengan kelompok non-atlet. Demikian pula dengan hasil penelitian di Bali, kelompok atlet Kontingen Bali berbeda dengan non-atlet; atlet Bali berada dalam kuadran yang sama dengan para penari Bali. Itu berarti profesi penari yang tiap hari melakukan pentas mempunyai nilai somatotipe sesuai dengan atlet. Hal itu menunjukkan kuantitas aktivitas fisik mereka sudah sama dengan melakukan olahraga.

Untuk rekrutmen awal, maka disarankan pengukuran somatotipe tubuh calon dapat dipakai pegangan. Setelah masuk menjadi atlet maka barulah dilatih dengan teknik keterampilan, pembinaan kesegaran jasmani, serta strategi/teknik berlomba. Jalan lebih pendek atau lebih ekonomis kalau memilih atlet berdasarkan pemeriksaan somatotipe tubuh dibandingkan dengan tanpa persiapan sama sekali.

Dari pembahasan di atas satu hal yang perlu diingat ialah bahwa satu cara atau metode mempunyai nilai lebih unggul dibandingkan dengan cara yang lainnya, tetapi juga selalu disertai dengan kekurangannya sendiri. Untuk itu, selalu dikaji nilai keuntungannya sehingga metode pengukuran yang dipilih selalu lebih menguntungkan.


Simpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik butir simpulan sebagai berikut:

1) rekrutmen awal atlet berprestasi dimulai dari penilaian fisik calon, yang paling mudah dengan nilai berat badan ideal;

2) lebih mengarah lagi disusul dengan pemeriksaan somatotipe tubuh (endomorf, mesomorf, ektomorf), karena dnegan cara tersebut telah didapatkan calon-calon yang atletis; dan

3) pengukuran somatotipe tubuh memerlukan peralatan dan keterampilan tertentu.


Daftar Kepustakaan


Adiputra, N. 1988. Somatotipe Atlet kontingen Bali dalam PON XI di Jakarta. Majalah Ilmiah Udayana. Th XV. no.18: 58-70.


Adiputra, N. 1988. Body Composition and Somatotype Characteristics of Balinese dancers. Majalah Kedokteran Udayana. No. 59 Januari: 14-18.


Adiputra, N. 1989. Somatotipe Hansip Desa Sidakarya. Majalah Kedokteran Udayana.no.63 Januari: 11-15.


Adiputra, N. 1990. Somatotype of Athletes and Non-athletes. Majalah Ilmiah Udayana. Th.XVII.no.23: 9-13.


Adiputra, N. 1992. Physical Fitness of Balinese Dancer. Majalah Kedokteran Udayana. No.75, Januari: 33-36.


Adiputra, N. 1992. Pengaruh Latihan Menari Terhadap Kesegaran Jasmani. Jurnal Pascasarjana Unair. No.3 (2): 1-15.


Fox, EL; Bowers, RW; Fors, ML. 1993. The Physiological Basis for Exercise and Sport. Brown & Benchmark. Brown Common Inc: 669-673.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar